Doa Khatamul Qur'an, Mengenang Jejak Nafas Islami Masa Kecil


Assalamu'alaikum maak....

Seperti yang terpampang pada judul, tulisan kali ini saya buat karena lagi rindu berat dengan masa-masa kecil saya yang luar biasa membekas dan saking membekasnya dalam ingatan bahkan dalam hati selalu kelepasan berucap "Ya Alloh, bisakah kembalikan kami ke masa itu?" (Ga mungkin ya, hiks *sadardiri). Atau "Semoga suatu saat bisa menemui dan berada dalam komunitas  seperti zaman kami kecil" Mungkin ga? Ah semogaa sajaa....

Zaman itu sungguh membentuk ingatan jangka panjang saya dengan ingatan yang baik. Walaupun ada secoret dua coret masa kecil yang buruk tapi itu bisa tertutup dengan bayang-bayang suasana kehidupan yang baik yang jumlahnya lebih banyak. Sekali dua kali terlupa, tapi untuk sebulan kemudian memori saya terlempar lagi ke zaman itu, zaman keemasan masa kecil kami.

Salah satu yang bikin memori saya ga bisa lepas dari masa kecil adalah ingatan tentang kegiatan keIslaman di kompleks perumahan kami, karyawan pabrik gula pelaihari, dari mengaji di TPA bagi anak yang baru memulai, lanjut ke TPQ bagi yang sudah lebih lama belajar mengajinya untuk kemudian ditambah pelajaran  tajwid lanjutan, bahasa Arab dan Inggris dan dikahiri dengan lantunan doa khatamul Quran setiap kali kami mengakhiri sesi belajar sore itu. Yah, walaupun di beberapa sumber saya dapati ternyata doa ini tidak diajarkan Rasul tapi sungguh makna doa ini sangat bagus. Toh, kalo kita tidak menganggapnya sebagai ibadah tidak akan masuk dalam bid'ah kan? Ini hanya doa dengan makna yang mendalam yang biasa kami lantunkan setiap sore.

Kalian mau tau artinya?
Ya Alloh rahmatilah kami dengan Al-Quran. Jadikan ia iman kami, petunjuk dan rahmat bagi kami. Ya Alloh ingatkan kami apa yang kami lupa dan ajarkan bagi kami apa yang kami tidak tahu (jahil). Karuniakanlah kepada kami untuk dapat membacanya sepanjang siang dan malam. Jadikanlah ia perisai kami, wahai Tuhan sekalian alam.

Muthia, anak sulung saya yang masih 3 tahun saya ajarkan doa ini. Semoga menjadi doa juga buatnya, terekam dalam alam bawah sadarnya. Doa agar nanti dia bisa mencintai Al-Quran dan syukur-syukur bisa menjaganya dengan hapalan dan amalan. Saya yakin masa Muthia besar nanti fitnah akhir zaman sangat besar, mungkin lebih dahsyat daripada hari ini. Semoga Al-Quran bisa menjaganya dan semua anak-anak Muslim di dunia.
Mesjid kami yang sekarang


Hai, kawan-kawan kecilku. Masih ingat dengan doa ini? Semoga kita selalu sehat di mana saja kita berada, semoga memori kecil kita bisa menjaga silaturahim kita walau hanya sebatas doa. Salam rindu....

2 komentar:

  1. Kalo saya, jaman masih mengaji di surau dulu. Bukan doa2 yg paling di ingat. Melainkan penampakan pocong buk! Gak tau itu beneran pocong apa pocong2an.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hmmmm, agak serem gitu ya pak ceritanya

      Hapus