Pakai Jasa ART, Yay or Nay?

Assalamu'alaikum maak....
Apa kabarnya?

Kali ini saya mau sharing tentang pengalaman saya yang berhubungan dengan ART. Maaf yaa mungkin kali akan panjang tulisannya, hihi...

Tau kan ya kepanjangan ART? Yess, Asisten Rumah Tangga, singkatan yang menggantikan kata "pembantu" yang terdengar hmm.... lebih kasar. 

Beberapa pekan lalu timeline facebook saya sedang rame postingan kang Rendy, seorang owner konveksi muslim,  yang membuat tulisan tentang pekerjaan rumah tangga dan tetek bengeknya yang prefer dikerjakan oleh seorang ART. Di sana dia mengungkapkan banyak manfaat menggunakan jasa ART, salah satunya membuat suami istri pemilik rumah bisa mengalokasikan waktunya lebih produktif pada bidang yang menjadi mata pencaharian utamanya atau sekedar passion sekalipun daripada "hanya" mengurusi urusan domestik RT yang tidak akan ada habisnya bila dikerjakan.

Entah kebetulan atau tidak, di pekan yang sama ada postingan yang rame sekali (pula) dishare oleh kaum makmak, tentang seorang WNI yang belajar budaya Jepang karena kondisinya yang mengharuskan dia dan suami tinggal di sana. Betapa dia sangat belajar menjadi istri dan ibu yang mandiri, tanpa ART, tanpa bantuan makanan warung (karena katanya di sana susaah banget dapetinnya), "hanya" bermodalkan kerjasama tim dengan suaminya, seseorang yang katanya ga bisa masak, ga ahli urusan rumah tangga akhirnya bisa juga menjadi seorang mamatachi (mamatachi adalah sebutan bagi wanita yang mandiri dalam hal apapun) sama seperti perempuan-perempuan Jepang lain.
Mama-mama di Jepang, kita mah belum ada apa-apanya.

Well, dua paparan dari mereka itu menjadi pikiran di kepala saya sejak saat itu bahkan sampai sekarang. Saling bertolak belakang tapi bagi saya keduanya sama-sama ada benarnya.

Cerita sedikit tentang saya yang pernah kena radang sendi (osteo-arthtitis) dan masih kumat-kumatan sampai sekarang. Menggunakan jasa ART tampaknya jadi pilihan saat saya merasa tidak bisa menyelesaikan pekerjaan RT dengan baik. Memakai jasa mereka tentu artinya pekerjaan saya berkurang drastis menjadi "hanya" mengurusi anak, menemani mereka bermain, memasak, daan....mempunyai me time lebih banyak dengan mengerjakan apa yang menjadi hobi saya.

Dari tulisan kang Rendy, hampir semuanya saya amini.

Sebenarnya sih hal ini berkebalikan dengan keinginan saya jauh sebelum menikah. Saya dulu punya keinginan ketika berumah tangga nanti saya yang akan mengurusi semuaaa keperluan suami, anak-anak dan urusan domestik RT, bahkan saya ga mau kalo suami nanti turun tangan membantu. Ih, sok perfeksionis, terlalu idealis.  Hingga akhirnya saya menjalani sendiri betapa kompleknya pekerjaan RT yang seakan-akan tidak ada habisnya, belum lagi jika terkena penyakit kambuhan itu dan akhirnya saya menyerah menjadi realistis, saya memakai jasa ART.

Saya menggunakan jasa ART pertama kali sekitar 3 tahun lalu, saat anak pertama baru lahir. Saya yang waktu itu belum sadar kalo saya kena OA (sebab kata bubuhan peninian lelah dan sakitnya saya itu cuma karena urat anum, istilah buat kondisi new mommy with new bornbaby karena efek kontraksi adekuat ketika melahirkan).

Kalian pernah merasakannya? Rasanya badan itu seperti remuk redam, kaya digebukin orang sekampung!

Suami lalu mendatangkan ART ke rumah, hanya paruh waktu, kerja dari jam 7 - 11 tanpa masak. Saya sebenarnya cocok dengan beliau ini, telatenan, ramah pula. Saya suka lah sama beliau ini. Sayangnya,  mental saya kurang kuat menghadapi nyinyiran orang di luar; Baru anak 1 pake pembantu ya atau....lahiran normal aja kan? (Koq pake pembantu), rumah kecil aja pake pembantu, bla bla bla bla. Fix, lambe turah detected!

Kesel banget.

Entah kenapa nyinyiran model ini lebih mengganggu di telinga saya daripada pertanyaan "sarjana ga kerja? Ijazah ga kepake donk?" 

(Sepertinya saya harus meningkatkan lagi jurus menebalkan telinga. Haha...)

Singkat cerita saya akhirnya pindah dan tidak lagi memakai ART. Semua pekerjaan saya kerjakan sendiri dengan OA yang saya sandang, sembuh untuk kemudian kambuh di saat-saat tertentu. Jujur, penyakit ini membuat mental saya drop sampai palung laut kehidupan terdalam *tsaaah, disamping faktor-faktor lainnya yang turut memperparah kondisi psikis dan fisik saya. Sangat bersyukur ketika sekarang perlahan-lahan saya bisa sembuh dan "menyembuhkannya" sendiri. Sayapun mulai menikmati hidup dengan rutinitas saya yang sekarang dengan kondisi mental dan fisik yang lebih baik, alhamduliLlaah...

****

Hingga akhirnya di suatu pagi....
"Bu, nyari pembantu kah? ", tiba-tiba di suatu pagi di depan rumah ada sesosok ibu paruh baya mencari pekerjaan. Dengan izin suami dan nego sebentar tentang jobdesc serta upah saya iyakan ibu itu bekerja di rumah. Tidak lama, hanya 2 jam saja, tapi cukup membantu saya terutama membersihkan yang di luar jangkauan saya.

Dari awal saya setuju sama tulisan kang Rendy pada poin merekrut orang untuk bekerja dengan kita sama dengan membuka lapangan pekerjaan sehingga mereka tidak perlu menjadi TKW di negeri orang. Apalagi ditambah dengan curcolan ibu itu tentang kondisi keluarganya yang di bawah rata-rata, saya jadi yakin mau memperkerjakannya, awalnya.

Sayangnya hanya 2 pekan saja keyakinan itu bertahan. Kenapa? Baca ceritanya sampai habis ya. Lantas? Saya pensiunkan dini?  Gak, saya angkat tangan deh kalo urusan menyampaikan secara langsung dengan baik dan benar, apalagi masalah sensitif seperti ini.

Jadi, saya cuma berdoa, berdoa kalo memang orangnya baik dibikin betah, kalo ga baik tolong bikin ga betah Ya Alloh, sudah begitu ajah (Doa macam apah ini??)

and after a few weeks later,
you know what the happened?

Si ibuk tiba-tiba hilang alias ga datang-datang lagi ke rumah!?

Saya ga tau harus senang atau sedih saat itu. Senang karena bisa jadi ini manifestasi doa saya sebelumnya. Sedih karena sehari sebelumnya dia minjam uang dengan dalih buat makan. Bahkan dua pekan kerja di rumah dia sudah berani pinjam uang dengan alasan beli susu anaknya. Kalo ditotal pinjamannya sama dengan gaji sebulan.

What??

Ah, semoga benar alasannya itu. Bukan sekedar #storyofdramaqueen

Dan yang paling bikin sedih lagi adalah cincin nikah saya hilang dan itu baru saya sadari 2 hari setelah dia ga datang ke rumah lagi. Siapa yang ga sedih ya kalo cincin nikah hilang? Apalagi saya ga punya perhiasan lain selain tuh cincin. Hiks....

Bukan, bukan karena suami ga bisa belikan, tapi saya suspected alergi emas, jadi kalo make perhiasan dari emas jadi bruntusan gatal-gatal gitu. Aneh ya? *ndeso detected. Hahahaha...  (Ini ceritanya lagi sedih kan ya?)

Kami ga menuduh dia sih yang ngambil karena kami juga ga punya bukti. Tapi koq momennya itu loh yang pas. Ah, sudahlah.... Saya memilih untuk ga mikirin itu lagi. Toh, suami ga menyalahkan saya karena keteledoran bininya ini. (Hiks, telimikicih ya suamii).

Padahal lo yah, padahaall.... Saya niatnya udah bener kan pengen bantuin dia. Sebenarnya saya perlunya cuma ART datang 2x sepekan, tapi dia bilang mau kerja full sepekan biar gajinya lebih banyak,  ok saya persilakan.

Hampir setiap kali pulang kerja saya kasih sangu apa aja, kadang kalo saya sudah selesai masak buat makan siang dia saya bawakan menu yang sama. Kalo ga sempat masak saya bawakan tahu tempe telur atau sayur mentah atau beras atau apa aja supaya meminimalisir penggunaan gaji dia buat makan sehari-hari. Menuntut banyak saya juga ga, la wong 2 jam kerja dia langsung pulang. Kurang apa coba kami? (Kurang gaji dia jawab, hahaha....)

Ya wess lah, memang begini sudah jalannya ya dijalanin aja, kami juga ikhlas aja sudah sama yang dibawa kabur. Dipikir-pikir kan kami juga yang minta sama Alloh begitu ya.... Hihihi, lah siapa yang betah sama ART yang ngakunya bisa ngeliat penampakan. Kalian tau, dia sempat izin mau ngambil batu keramat di belakang rumah kami, yang katanya bisa buat menyembuhkan orang macam ponari, yang katanya lagi ditunggui sama jin perempuan rambut
panjang. E buseett dah. Eh, astaghfiruLlooh maksudnya. Bukan serem di kata-kata "ada jin" nya tapi kalimat dia seluruhnya, mempercayai jimat yang artinya...... (isi sendiri aja).

Jadi, sebenarnya bukan dia yang ga betah kerja, tapi saya ga betah punya ART seperti itu. Laah, ini koq malah curcol banget ya, maafkeun maafkeeunn.

Jadi, intinya apa donk, pake jasa ART yay or nay? Ok, sebelum memutuskan simak dulu per-poinnya ya....

  1. Kalo kondisi keuangan kita memungkinkan untuk memperkerjakan orang di rumah, ga masalah ya. Mana tau dengan diringankannya pekerjaan di rumah kita jadi produktif di sektor lain, bisa nambah income, bisa menjalani passion tanpa terbebani cucian numpuk dan lantai kotor. Kita tertolong dengan bantuan orang dan orang jadi tertolong karena kita pekerjakan.
  2. Tapi, kalo kondisi ekonomi ga mencukupi untuk itu yaa jangan ngoyo juga, lakukan saja sendiri (syukur-syukur bisa ngajak anak dan suami bekerjasama), hitung-hitung membakar kalori dan bonding keluarga jadi lebih erat, ya kan? 
  3. Kalo ingin merekrut ART sekarang saya prefer untuk mencari dari keluarga sendiri yang memang butuh pekerjaan atau rekomendasi dari orang dekat. Ga lagi lagi deh ngambil orang sembarangan.
  4. Kalo menurutkan "ambisi" waktu single saya pengennya tetap tanpa ART sih, saya yang menguasai pengaturan default interior, tata letak peralatan, memasak dan memastikan sendiri nutrisi keluarga. Tapi "ambisi" itu hanya akan menjadi serpihan mimpi jika kita tidak bisa merawat kesehatan kita, karena percayalah tidak banyak yang bisa kita perbuat dengan tubuh yang ringkih. So, keep your health mak! *ngomong ama cermin
  5. Kalo tetap ingin memakai ART, cocok dengan kerjaannya maka buatlah sekiranya dia bakal betah bekerja dengan kita. Akan sangat capek jika kita bongkar pasang ART. Gimana ga capek ya, setiap kali ART baru kita akan nge-briefing mereka, mengulang-ulang jobdesc yang sama. Belum lagi kalo kerjaan mereka ga sesuai harapan kita, seenaknya kerja, ga rapi lipatannya, ujung-ujungnya nanti kita juga yang ngerjain kan?! Gimana supaya ga salah pilih? Balik lagi ke poin 3.
  6. Kalo ingin ART betah karena kerjaannya bagus maka sikap kita sama ART juga harus dijaga apalagi yang umurnya jauh di atas kita. Pilih kata-kata yang tidak menggurui atau memerintah secara kasar. Buat dia senang lah intinya, senang kerja di rumah kita. Bisa juga dengan membawakan makanan ketika dia mau pulang, ga harus setiap hari sih, seadanya dan semampunya kita aja.
Jadi, kesimpulannya? yey or nay, iya atau tidak pakai jasa ART akhirnya balik lagi ke pendapat kalian masing-masing. Saya cuma mencoba memaparkan dari sudut pandang saya dengan menambahkan sedikit pengalaman ber-ART, siapa tau bisa jadi pertimbangan bagi yang mau memakai ART.

Ok, kayanya cukup sampai di sini aja ya, sudah terlalu panjang kayanya. Makasih loh makasiih yang sudah baca dari awal sampai akhir tak terlewat sekalimatpun. Tumben-tumbenan saya bikin postingan panjang kali lebar begini, hahaha. Emang ya mak kalo urusan curhat selalu terdepan.

Salam sehat, salam waras, salam bahagia (dunia akhirat) makmak sholiha! *kisshug

13 komentar:

  1. Aku baru tau pengalaman ART yg ini fik.. Serem jg y smpe cincin ilang.. Cb kalo ak kyk gt? *lempar ulekan �� *aku mah gt orangnya.... Wkwkwk..
    Tp emg bnr klo nyari ART hrs yg recomended.. Hiks.. Belajar dr pengalaman mama jg..

    BalasHapus
  2. Iya, bener. Zaman sekarang gitu ya.... Kalo ada kloningannya Mama Bayu yang kaya di rumah mama aku mauu ih satuu

    BalasHapus
  3. Dari SMA aku mah cita2 nya abis nikah gak mau punya ART So for me is Nay 😂😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Toos deh. Hehe. Berarti fisik harus prima ya mba.

      Hapus
  4. Gila ya nyintiran ibu-ibu sekarang, tajem banget. Suka ngurusin rumah tangga orang lain. Aiihhh jadi ingin berkata kasar.

    Kalo mampu mah, kenapa ga, yee kan. Duit-duit siapa juga. Hehe

    www.rima-angel.com

    BalasHapus
  5. Betul banget, aku baru tau fenomena mamatachi ini loh mba, setrong banget :D

    Aku juga lebih menyarankan nyari asisten rumah tangga yang dari keluarga sendiri aja, yang kita tau jelas background sama sifatnya gimana, daripada yang tiba2 datang dan pergi tanpa diundang (?), mana itu kerjanya 2 jam doang pula? Aih :(
    Semoga dapat pengganti yang lebih baik ya mba, cukup dijadikan pelajaran aja semoga lancar dan cepat sembuh juga :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih mba Leha. Aku mau tanpa ART aja kayanya kalo udah fit to the max, kalo ada orang di rumah kaya risih sebenarnya, he

      Hapus
  6. Kalau aku gak pakai ART mba,cuman ada pekerjaan2 yg dibantu orang lain.hihi kalau menurut saya pekerjaan rumah masih oke kalau dibantu.agar kita lebih fokus menjaga anak.

    BalasHapus
  7. Iya mba Dina,semua ada pertimbangannya masing2 :)

    BalasHapus
  8. Di eropa juga jarang ada pembantu kecuali kaya banget, krn harga art disana mahal dan susah dapetnya.jd pada mamatachi juga. Tp aku jg setuju kalo ada art bs mengalokasikan waktu ke kegiatan lain. Cuma ya gitu, skrg susah nyari art yg pas *curcol hahaha

    BalasHapus
  9. Aku juga kepengeeen banget punya ART, tapi keder sendiri ngebayangin ada orang yg nggak terlalu dikenal di rumahku *introvertproblem 😅
    Akhirnya ga jadi2 punya ART. Ya sudahlah, duitnya buat beli novel aja *lah 😂😂😂


    Gita
    jurnalgita.wordpress.com

    BalasHapus
  10. Dulu mamaku pernah sih ada yang bantu-bantu di rumah tapi dari keluarga juga. Secara mamaku bejualan wadai jadi kadang kada tapi teurusi rumah. Sekarang nggak pakai art jadi ya rumahnya seringnya berantakan. Hehe

    BalasHapus