Review Zalfa Miracle Face Wash



Assalamu'alaikum....
Hai, makmak ketjeh di manapun kalian beradah.... Kali ini saya (lagi-lagi) pengen mengulas produk skincare yang saya gunakan belakangan ini.

Kenapa saya terlihat bersemangat membahas skincare? Karena saya ga bisa make-up πŸ˜‚. Mungkin karena lebih duapuluh tahun hidup ga terbiasa liat mama dandan jadi saya juga ga terlalu minat sama yang namanya make-up atau lebih tepatnya ga bisa! Karena saya ga jago poles-poles wajah, yaa... minimal saya bisa merawatnya lah, itu pikiran simpel saya.

Sebenarnya, a main point-nya kenapa saya akhir-akhir ini so excited bahas skincare adalah karena saya sudah menemukan perawatan yang cocok satu demi satu dan saya merasakan hasilnya!

Bagi makmak syantik nan rajin mungkin ini hal yang biasaaah sajaaah. Tapiiii......bagi saya yang pernah mengalami kemalasan kronis dalam hal perawatan kulit sungguh ini adalah suatu pencapaian yang luarr biasahh. *eaaa lebay, hahaha.

Tapi, ini serius. Empat tahun berkubang dalam kemalasan berskincare baru ini saya merasa kulit saya seperti terlahir kembali *kibasrambut. Dan efek sampingnya saya merasa lebih percaya diri walau kerjaan hanya IRT sejati. Hihihi...

Oya, kenapa saya sempat malas melakukan perawatan? Yang belum tau ceritanya ada di sini.
Dan pada akhirnya titik klimaks kemalasan itu mulai menunjukkan hasilnya.

Sebelum saya terlihat menua di usia yang masih 20an, sebelum saya terbiasa dengan pertanyaan "anaknya berapa? Baru dua ya?" (BARU?? hiks. kejaaaamm 😭), dan sebelum saya terlihat lebih tua daripada suami saya yang dari sononya babyface,  saya memutuskan untuk memotong rantai kemalasan saya ini *praaanngg.

Akhirnya, dimulailah petualangan saya di dunia skincare selama 5 bulan terakhir. And here they are;
  1. Inner skincare bagian 1 dan 2
  2. Daily Cream
  3. Toner
  4. Body lotion
  5. Greentea
Dari beberapa di atas ada yang saya selang-seling dengan inner skincare lainnya karena takut doubling nutrisinya. Dan masih ada beberapa PR skincare yang belum ketemu jodohnya, seperti day cream ber-SPF. Oya, saya ga pakai (belum lebih tepatnya) milk cleanser karena bisa dibilang hampir ga pernah make-up. Dan kali ini saya mau membahas face wash yang (akhirnyaaaa) ketemu yang bagus di muka saya.

Yaah, walaupun cuma facewash tapi saya merasa ini cocok-cocokan juga. Sebelumnya saya pakai facewash dengan berbagai macam merk dan yang paling lama adalah Garnier. Ga terlalu bermasalah sih sebenarya, ga bruntusan atau perih, cuman lama-lama koq malah bikin komedo dan busanya terlalu banyak menurut saya.

Suatu hari sepupu saya mengembalikan facewash Zalfa yang udah setahun lebih ketinggalan di rumahnya. Iseng saya pakai karena exp datenya masih 2018. Saya lupa bagaimana rasanya dulu pakai facewash ini, makanya awalnya saya ga terlalu berharap hasilnya lebih dari sekedar cuci muka. Eh la koq setelah dipakai ada sensasi kenyul-kenyul ketarik gitu, mana cerahan juga (dikiit). Not expected more but get worth it enough lah😍.

Packaging
Facewash ini dikemas dalam botol yang disertai dengan pompa untuk akses keluarnya. Isinya 100ml.
Sebenarnya facewash ini sepaket dengan day and night cream yang terdiri dari 3 varian, yaitu; lightening (kulit normal), acne (kulit berjerawat), dan flawless (kulit dengan flek hitam dan kerutan).
Untungnya boleh beli terpisah. Kemaren beli harga Rp 32.000 sebotol. Agak mahal sih dibanding facewash saya sebelum-sebelumnya, hmm tapi gpp deh buat nilai lebih di dalamnya.

Komposisi
Walau berasal dari varian yang berbeda tapi khusus facewashnya punya kandungan yang sama. Iya, sama plek keteplek. Jadi kalo lightening ketuker ama yang acne facewash no problemo. Soalnya saya ketuker juga ama yang varian flawless, tapi karena dapat konfirmasi bahwa kandungannya sama aja jadi ga masyalaah deh.
Cairan facewashnya Zalfa ini kental agak cair, ga kaya lotion sebangsa Pond's, Garnier, Biore gitu. Oya, macam Clear and Clear dink, berwarna tapi transparan. Baunya enak, ada aroma herbalnya, kaya jamu-jamu gitu pank (pank???).

Mostly, saya suka facewash ini karena;
  1. Penggunaan SLSnya sedikit terbukti dari busa yang dihasilkannya juga sedikit. Saya emang ga terlalu suka sama sabun wajah yang busanya melimpah, karena penggunaan SLS atau detergen yang banyak justru mengakibatkan kulit cepat kering atau malah teriritasi. Busa irit juga memudahkan saya -selaku emak rempong- dalam membilas muka,  set set set selesaaii,  ga perlu banyak air untuk membilas dan pastinya cepat. Maklumin yaa, saya suka maunya kilat kalo ngerjain apa-apa. Hahaha.
  2. Sudah halal MUI dan lulus uji BPOM. Saya ga bilang yang ga ada label halal MUInya lantas berarti ga halal, cuma untuk ketenangan di hati saya lebih milih produsen yang mengusahakan produknya lulus uji kehalalan. Kenapa?  Karena produk kosmetik itu banyak sekali titik kritisnya, salah satunya penggunaan gliserin yang bisa diambil dari mana saja. 
  3. Ga comedogenic dan ga bikin kusam. Karena kandungan aloe vera dan hamamelis itu kali ya jadi pori-pori mengecil dan tea tree-nya bikin bakteri minggat sehingga ga bikin komedo dan kulit juga berasa kaya cenil, enak ditowel-towel maksudnya. Anyway,  saya emang cocok banget sama lidah buaya. Jadi, pada zaman muka ini penuh dengan jereweteti saya coba pakaikan lendir lidah buaya sebagai ganti krim malam. Masya Alloh, paginya luar biasa lembab, lembut, cerah. Ah, emejing lah pokok na mah. Sayang, saya ga punya tanamannya, jadi ga bisa rutin makenya *banyakalasan
Repurchase?? InsyaaLloh 😍😍😍 asal kaga berubah komposisinya dan muka saya masih cocok. Apalagi kalo nantinya bakal ditambah kolagen, aahh perfecto!

2 komentar:

  1. kira2 kalo pake face wash nya aja, tapi cream nya pake lain, kira2 aman ga ya mbak? hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eh kenapa emangnya mba? Setau saya sih gapapa ya...

      Hapus