Untitled Story

Rindu masa itu.
Empat tahun lalu, waktu kita masih dalam masa perjuangan di awal-awal menikah, pekerjaan masih belum mapan (walau kata orang profesimu adalah sesuatu yang menjanjikan). Sempat terombang-ambing menentukan pilihan yang sama-sama sulit tetapi ujung-ujungnya juga tidak diterima. Saat-saat aku menangis untuk pertama kali karena tajamnya lidah, membuatku tersungkur dalam sajadah, ingin rasanya keluar dan segera mandiri.
Hingga suatu saat Alloh membukakan jalan lewat tangan orang baik -kami akan selalu mengenang kalian- dan terdamparlah kami di pedalaman. Tak apa, hanya 4 jam jaraknya dari rumah orangtua kami. Tak apa walau jalan rusak dan mobil nyaris terbalik saat usia kandungan belum genap 4 bulan, sangat riskan padahal. Tapi aku bahagia, Alloh cepat sekali mengijabah doaku.
Jalan yang kami lalui dulu begini. Katanya sekarang sudah diaspal Alhamdulillah 
Terisolasi dalam kampung kecil saat itu, walau akses keluar susah, keperluan hidup mahal, tapi aku bahagia. Sempat tidak punya tv, handphone dicuri, tapi aku bahagia. Mengikutimu tengah malam jika ada panggilan partus walau harus melewati hutan di belakang puskesmas, menungguimu sampai dini hari jika ada visum mayat di desa sebelah, aku bahagia. Aku bahagia membersamaimu mengabdikan diri untuk masyarakat, aku bahagia melayanimu sebagai istri seutuhnya, aku bahagia belajar masak dari nol demi mu, aku bahagia menunjukkan diri bahwa aku bisa mengabdikan diri untukmu, aku bahagia.
Ingatkah kau saat aku memaksa ikut ke kota demi menemanimu membeli obat? 6 jam perjalanan bolak-balik hanya demi itu. Beruntung anak kita kuat sejak dalam perut, tergoncang bagaimanapun aku tidak keluar flek, padahal di luar sana banyak ibu-ibu muda yang sangat mengkhawatirkan janinnya. Sepertinya aku lebih sayang kau, ayahnya. Hahaha… Tentu saja aku juga sayang anak kita, dia yang pertama merasakan perjuangan itu, sakit, pedih sampai bahagia. Dia mutiara hidupku.
Ingatkah kau jika setiap ada dering telpon tengah malam, kau bangun aku juga bangun. Lantas kita sama-sama pergi ke puskesmas detik itu juga melewati semak belukar dan pepohonan, padahal aku sedang hamil dan kondisi itu sangat rawan diganggu yang tak kasat mata sampai makhluk panjang berbisa yang bisa jadi lewat di kaki kita. Tapi aku me-nol-kan semua pikiran itu. Yang aku mau hanya ingin menemanimu, itu saja.
Kata orang, di balik suami yang hebat ada istri yang hebat. Ih, itu mah kata orang. Tak ada istri yang hebat di belakangmu. Yang ada hanya istri yang rapuh dan manja. Hanya istri yang tidak menghasilkan, tidak pula menambah pundi-pundi tabungan. Karena itulah aku tidak berminat meminta jatah pakaian sebulan sekali seperti teman-temanku pada suaminya, atau tas bermerk, atau sepatu berkelas, atau perhiasan berkilau. Bagiku cukup cincin nikah yang melingkar di jari manisku.
1.5 tahun hidup di pedalaman adalah pengalaman yang luar biasa bagiku, beruntung pernah mengalaminya, merasakan bagaimana orang bersusah payah menyambung hidup.
Dan sekarang menyaksikanmu berkembang pesat dalam disiplin ilmu yang kau jalani, aku senang. Kemudahan yang kita dapatkan sekarang patut kita syukuri. Semoga kita bisa selalu berbagi dengan orang lain karena masa perjuangan itu harus selalu melekat di ingatan.
Tapi sayang, izinkan aku merindukan masa-masa itu malam ini, dalam dekapan…

(Taken from my old blog on WordPress. Just for remind myself)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar