A Story About My Post Partum Depresion


Disclaimer: Tulisan ini sarat akan subjektivitas dan dominansi perasaan. Dilarang keras bagi calon reader yang punya sensitivitas negatif tinggi untuk meneruskan membacanya karena hanya akan berujung pada nyinyir dan sinis. Ini adalah cerita tentang seorang "saya" dengan kondisi depresi saat itu dan untuk sekarang semua sudah berlalu dan untuk orang-orang di dalamnya sudah tidak ada masalah sama sekali. Let's istighfar together before. 

Assalamu'alaikum....


Ini adalah sekeping kisah dariku, yang mulai belajar tentang arti memaafkan untuk kemudian bangkit.


Setahun lalu, aku mengalami hal yang ditakutkan oleh semua ibu-ibu baru di dunia.

Baby blues syndrom dan depresion post partum yang selama ini hanya aku baca ceritanya dari portal berita online ternyata menyapaku sebentar, selama 5 bulan....

Awalnya aku tidak menyadari apa yang terjadi denganku. Aku pikir ini hanya kelelahan biasa yang pasti dialami oleh semua ibu-baru-melahirkan. Apalagi ini adalah kondisi post partum yang kedua dengan jarak lumayan dekat ditambah tidak ada sanak keluarga yang bisa membantu. Aku pikir ini hal yang wajar, sangat wajar. 

Aku pikir kelelahanku itu masih normal, mudah marah dan gampang sakit juga sesuatu yang harus dimaklumi. Tapi lama kelamaan aku merasa dadaku rasanya sesak, pikiran tidak bisa jernih, kacau, kewalahan menangani situasi, hingga rasa kecewa yang meledak-ledak membakar diriku saat itu.

Awalnya di saat hamil aku merasa aman karena ada tetangga (walaupun satu-satunya) dan seorang temanku di perantauan. Aku pikir mereka bisa membantu. Bahkan salah satu dari mereka menawarkan diri untuk menolong nanti ketika anak kedua sudah lahir. Tapi mana??? Di mana mereka saat anakku menangis menjerit 15 menit tidak henti? Tidak mendengarkah mereka? Atau TV di rumah mereka terlalu keras??? 15 menit anakku menangis dan aku masih menyiangi ikan karena aku lapar, tidak ada makanan dan anakku yang pertama juga harus makan.

Aku semakin terpuruk dalam kekecewaan yang sangat dalam. Mana yang katanya mau membantu kerepotanku, hah!?? Omong kosong!

Satu dua kali rasa kecewa itu menggores lagi saat aku sakit demam karena masitis dan abses (radang karena pembengkakan di payudara). Hai temanku satu-satunya di kota perantauan, semoga tidak sama sekali kau merasakan hal yang sama sepertiku. Ini menyakitkan!

Aku melewati satu dua kali demam dengan sambil merawat anak-anak dan hanya ditemani suamiku yang saat itu disibukkan dengan kegiatan penilaian di kantornya. Dia sangat sibuk saat itu tak menyadari istrinya ini sudah termasuk pasien jiwa. Tetangga? Teman? Lupakan mereka.

***
Kalian tau, bahkan aku sempat memasang dua kali profil picture di whatsap dengan tulisan, "I'm seeking a new mom and a new wife for my lovely children and husband".

Yaah, aku ingin mencari pengganti untuk menggantikan tugasku menjadi ibu dan istri. Aku merasa sudah tidak sanggup lagi menyadangnya. Lebih tidak sanggup lagi setiap menyaksikan diriku sendiri melemparkan barang sambil berteriak histeris saat melihat suamiku bersiap-siap berangkat kerja di hari Ahad, setiap pekan. Aku tidak sanggup lagi melihat diriku sendiri hampir setiap hari membentak anak pertamaku saat dia melakukan kesalahan yang dia sendiri tidak tahu itu salah. Aku muak dengan diriku. Aku ingin enyah saja dari hadapan mereka!

Tidak ada tempat berbagi saat itu. Dadaku semakin sesak, tingkah lakuku semakin tidak terkontrol. Kalimat-kalimat kekecewaan aku tumpahkan di media sosialku. Tapi apa yang aku dapat! Intimidasi dari beberapa orang untuk menghapus status-statusku. Bukannya menanyakan "Ada apa Fika? Kenapa? Sini cerita sama aku". Satu dua menyerangku secara terbuka, sisanya -aku tau pasti- menjatuhkan penilaian negatif.

Tidak terpikirkan di kepala mereka untuk menyapa jiwaku, alih-alih justru menganggap apa yang aku lakukan memalukan mereka yang mengenalku lantas menyuruhku ini dan itu. Sama sekali tidak ada simpati apalagi empati. Kalian tidak tau apa yang aku rasakan, kan??! Itu adalah kondisi yang menghantarkan banyak ibu-baru-melahirkan membunuh bayinya atau membunuh dirinya sendiri. Kalian tau rasanya hah?? Tidak, tidak akan. Kalian tidak akan tau rasanya sebelum kalian merasakannya sendiri.

Huufh, maafkan aku yang terlampau emosi menuliskannya. Sebenarnya sedih sekali bila ingat episode kehidupan terburukku. Tapi aku menulis ini untuk berbagi dan menjadikannya pelajaran untukku sendiri.

Bagaimana aku melalui 5 bulan mengerikan itu?

Suatu hari terbaca olehku kata-kata bijak. Aku tidak tau dari siapa quote ini aku baca, yang pasti setelah membacanya, aku merenung. Dari sinilah aku belajar membalik semuanya -biidzniLlah-

Bersandar pada manusia akan berujung pada rasa kecewa. Bersandarlah, berharaplah pada Alloh SWT semata. Hanya Dia yang tidak akan mengecewakanmu.

Seperti tertampar, aku pelan-pelan memperbaiki mind-set ku yang selama ini terlalu mengharapkan bantuan orang lain. Benar, bergantung pada orang lain hanya akan berujung pada kekecewaan, maka bergantunglah kepada Sang Pemilik Hidup, Alloh Azza Wajalla. Perubahan pola pikirku itu seperti membawa kekuatan tersendiri. Aku mulai bisa mengontrol diri, meletakkan masalah, mencari solusi terbaik, sampai memaafkan orang-orang tersebut. Perlahan tapi pasti aku memperbaiki diri.

Satu hal yang pertama aku dapatkan, kembalikan semua pada Alloh, Sang Pemilik Kekuatan, maka kalian tidak akan pernah kecewa.



Lalu, bagaimana selanjutnya?

Setelah merasakan titik balik dalam diriku, ada semacam semangat baru yang mulai aku rasakan gemericiknya. Aku mulai mencari-cari hal apa yang bisa membuatku senang. Aku memilih berkebun, membaca dan mengumpulkan novel, serta menulis. Ya, blog ini muncul dari situ. Blog ini sebagai penyaluran emosiku, for me writing is one of my self-healing.

Aku tidak bisa menjelaskannya lebih lanjut kenapa bisa begitu, mungkin ini hanya bisa dipahami oleh sesama orang dengan writing-passionate. Di blog ini aku bisa berbagi banyak hal, mulai dari yang bermanfaat seperti tutorial dan tips sampai hanya sekedar curcolan ala emak-emak sepertiku. Entah kenapa aku merasa senang dengan ini. Sekali lagi ini mungkin hanya bisa dimengerti oleh kalian yang punya passion yang sama.

Writing is my self-healing, just it. So don't judge me as like as you want.

Hei, membaca dan mengumpulkan novel juga menjadi hobi baruku sekarang. Tapi aku termasuk yang picky, pemilih. Sementara ini aku hanya ingin mengoleksi dari penulis yang aku ingin sekali berkata "Damn! That's so inspiring novels" Yang pernah sekali saja membaca novel Tere Liye pasti tau betapa berbeda tulisan-tulisannya dengan penulis novel yang lain.

Dari sana aku belajar banyak hal, prinsip hidup (edisi Pulang), semangat hidup dan kemanusiaan (edisi Tentang Kamu dan Bidadari-Bidadari Syurga), ekonomi, sosial, politik (Negeri Para Bedebah, Negeri di Ujung Tanduk), ilmu parenting (serial Anak Mamak, Ayahku Bukan Pembohong), kekuatan agama (novel Islami Rindu), bahkan ilmu fisika, kimia, biologi dalam khayalan fantasi (Bumi, Bulan, Matahari, Bintang), dan masih belasan lagi yang belum aku baca. Mungkin beberapa teman ada yang menganggapku berlebihan, lebay, tapi coba baca satu saja maka kalian akan tau kenapa aku begitu terobsesi dengan novel-novelnya.

Semoga aku tidak terlihat sebagai sales buku Tere Liye ya, hahahah 😝

Dua tiga hal yang bisa saya petik dari sini, lakukan apa saja yang menjadi hobi kalian, passion kalian, maka rasakan betapa energi negatif akan lepas dan emosi akan tersalurkan dengan cara yang tepat. 

Bagaimana menemukan passion yang tepat? Lakukan apa saja yang membuatmu senang dan bersemangat melakukannya, lakukan jika itu bermanfaat bagi dirimu dan orang lain.

Kenapa bisa terjadi baby blues syndrom dan depresi pasca lahiran?

Perubahan hormon yang drastis antara jeda mengandung dan melahirkan dituding sebagai penyebab utamanya. Hormon yang tidak stabil menyebabkan ibu yang sebelumnya sudah "maraton" kelelahan menjadi sangat rentan terpuruk kesehatan raga dan jiwanya. 

Baby blues menimpa 50 - 85% para ibu di dua pekan pertama setelah melahirkan. Jika baby blues tidak tertangani dengan baik maka akan berlanjut pada depresi pasca lahiran dengan presentasi sebesar 10 - 20% para ibu di satu tahun pertama setelah melahirkan.

Di diriku sendiri, selain faktor hormon yang labil dan kelelahan yang bertubi-tubi, penyakit osteoarthtitis alias radang sendi yang aku sandang selama 1,5 tahun menjadi penambah beban BBS-PPD yang aku alami. Sakit yang menyebabkan aku seperti orang yang tidak berguna sebagai istri dan ibu benar-benar memperpuruk kondisi saat itu. Aku menjadi seperti tidak ada artinya.

Sampai di sini sebenarnya sudah sangat jelas bahwa aku terkena PPD, tapi aku terlalu takut mengakuinya saat itu. Baru setelah kondisi membaik seperti sekarang aku mencoba untuk mencari tau apa yang terjadi denganku waktu itu dan benarlah ternyata aku sempat mengalami depresi pasca lahiran.

Inner child. Ada beberapa masa laluku yang belum tuntas dan dia mau tidak mau membentuk karakterku selama ini. Inner child yang bermasalah menyumbang parahnya depresiku. Tapi aku sudah memutuskan untuk memaafkan dan menutupnya sedalam-dalamnya.

Tetangga dan karib yang tidak peka ikut berperan (besar) kenapa BBS-PPD bisa terjadi. Tidak ada yang bisa menutup rasa kekecewaanku yang sungguh sangat membuncah itu, awalnya. Tapi rupanya begitu cara Alloh mengingatkan kesalahanku. Dan kini aku juga memutuskan untuk memaafkan mereka dan membuka lembaran baru.

Suamiku? Dia sangat sibuk sekali. Sungguh, aku tidak pernah melihat dia begitu mengabaikan kondisi istrinya seperti saat itu. Aku paham pekerjaannya sedang banyak-banyaknya, tugas-tugasnya menumpuk, dan aku tau dia tipe orang profesional yang berusaha sekali untuk menyelesaikan amanahnya dengan benar. Tapi, jujur ada retakan di hatiku yang makin lama makin besar ketika aku merasa dia mengacuhkanku. Walaupun aku tau tidak mungkin rasanya dia sengaja melakukannya. Ya dia tidak sengaja karena pikirannya habis tervorsir pada pekerjaannya.

Tetapi itu kejadian kemarin, 10 bulan yang lalu. Seakan tau, kini suamiku berusaha menyelesaikan lemburannya di kantornya. Tidak seperti dulu yang membawa setumpuk berkas ke rumah yang menghalangi mata dan telinganya dari istrinya. Kini suamiku lebih banyak menyentuh istrinya dibanding kertas-kertas tugasnya. Padahal aku tidak pernah cerita padanya bahwa aku depresi. Aku tidak pernah berbagi cerita kegilaanku pada siapapun, hanya satu orang waktu itu dan itupun aku hanya minta didoakan. Lidahku berat mengisahkan semuanya.

Terimakasih atas pengertiannya, suamiku... dan itu benar-benar membawa perubahan positif pada jiwa istrimu ini.

That's my pieces of story, dari PPD aku belajar banyak hal, dari PPD aku bisa menggali passionku, dan dari PPD aku menemukan kebenaran Cinta yang hakiki.

****

Berbagi itu indah, berbagi itu menyemangati diri sendiri. Maka aku akan selalu berbagi untuk hidup ku di "masa depan".






1 komentar:

  1. Ya ampun, bahaya juga ya mba kalau tdk tertangani dengan baik, haris banyak yg membantu dan mensupport saat mengalami hal itu.. salute buat mba yg akhirnya bisa mengatasi nya dan bisa berbagi.. pelajaran penting buat aku nih hehe

    BalasHapus