Eksperimen Membuat Awan dan Hujan Sendiri



 Assalamu'alaikum....

Seperti postingan sebelumnya dan sesuai janji saya untuk berbagi ide DIY games selama sepekan ini, maka kali ini izinkan saya kembali berbagi tentang eksperimen sederhana bersama anak. Sederhana saja, sesederhana bahan-bahan yang kita gunakan.

"Kebetulan" sekarang lagi musim kemarau, jadi ceritanya ini sambil merindukan hujan juga. Saya mengawali eksperimen ini dengan menceritakan proses terjadinya awan dan hujan kepada anak saya. Tentu saja dengan bahasa sederhana, tanpa istilah-istilah yang orang dewasa saja susah menyebutnya.

🔩Bahan:
  1. Toples kaca
  2. Air panas
  3. Korek api
  4. Es batu
🔏How to:
  1. Masukkan air panas ke dalam toples, sepertiganya, lalu tutup
    Uap belum banyak ya, tunggu aja
  2. Nyalakan korek api, masukkan ke dalam toples, tutup dan biarkan 1 - 3 menit (saya pakai kapas dibakar karena ga dapat korek)
  3. Letakkan es batu di atas toples
  4. Perhatikan apa yang terjadi
    Uap air panas naik ke atas. Disitulah "awan" tercipta
🔍Apa yang terjadi?

Yang terjadi saat air panas dimasukkan dalam gelas adalah muncul gumpalan kabut. Disitulah asal mula terjadinya awan. Setelah ditambahkan es batu, kabut berubah menjadi tetes-tetes air yang menempel di toples dan sebagian lagi jatuh kembali, disitulah proses terbentuknya hujan.

Hmm, lalu korek api dimasukkan dalam toples buat apa sih? Lanjut aja bacanya ya maak 👌
Setelah diletakkan di es di atasnya, uap tadi berubah jadi tetes air. Disinilah terciptanya "hujan"

🙋Bagaimana menjelaskan kepada anak?

Saya menjelaskan kepada si sulung saya dengan bantuan gambar daur air atau siklus hujan sederhana, saya ambil yang paling sedikit tulisannya, tidak perlu rumit dengan embel-embel istilah. Bahwa air di permukaan bumi (sebut danau, sungai, laut, atau semua yang dia tau) naik ke atas karena menguap oleh sinar matahari, uap itu berkumpul menjadi awan (Muthia bilang mereka berteman membentuk awan) dan lama-lama awan itu semakin jenuh karena terlalu banyak uap air di dalamnya (saya bilang mereka bersesakan berada di dalam ruangan yang sempit), jika suhu di atas awan dingin maka awan tadi akan turun menjadi hujan. Nanti, air hujan yang jatuh kembali ke sungai, danau, laut dan kemudian naik lagi ke atas menguap, dan seterusnya seperti berputar prosenya, itulah siklus.
Siklus hujan sederhana

Tapi kalo emaknya boleh laah ya tau sedikit-sedikit sembari mengulang pelajaran SD yang telah lampau, hitung-hitung mengurangi progress penyakit Alzeimer yang konon katanya bisa diperlambat dengan membiasakan menghafal, membaca buku, dan berpikir *novel mana novel (eaaaa, teteup yak #ayemnopeladdicted). 





Naah ini persi emaknya ya. Ayo, belajar belajar 😆😆
Siklus air ini berlangsung terus-menerus dari bumi ke atmosfer dan kembali lagi ke bumi. Siklus ini melibatkan proses evaporasi, presipitasi, dan kondensasi
  1. Evaporasi adalah proses penguapan -yang terjadi di laut, danau, sungai, dan bahkan tumbuhan juga- karena pemanasan oleh  matahari. Semua uap air naik ke atas dan membentuk awan. Dalam eksperimen kita kali ini, uap airnya diproduksi dari air panas yang dimasukkan ke dalam toples.
  2. Presipitasi adalah proses pengendapan yang terjadi dari sekumpulan awan-awan. Jika semakin banyak uap air yang naik ke atas, awan akan semakin jenuh. Dalam eksperimen kita presipitasi diwakili dengan menambahkan korek api ke dalam toples yang akan membuat uap air semakin banyak
  3. Kondensasi adalah proses pengembunan, hal ini terjadi jika uap air jenuh berada pada kondisi dengan suhu rendah. Jika ini terjadi maka awan akan berubah menjadi titik-titik air. Meletakkan es batu di atas toples adalah proses kondensasi yang dimaksud.
Selain mengenalkan lewat cerita bergambar saya juga memutarkan video animasi siklus hujan. Maaf ye mak ngambil dari Malaysia punye, mak nyari yang lokal belum dapat yang pas karena keterbatasan waktu 😄.



Naah, seru kan bisa membuat awan dan hujan sendiri. Coba yuuk! Keep Do It by Yourselves, maak! *kisshug

15 komentar:

  1. Aih.. Lucuu... Detail banget.. Nanti cuss ahh praktis dirumah.. Bahannya jg mumer nih.. Ga butuh banyak modal.. ��
    Ak kemarin praktik yg gunung merapi si kecil cuss minta beliin cuka lagi loh.. ��

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bikin bikin kaya gini emang bikin anak anak ketagihan kan....

      Hapus
  2. Waw keren. Bisa nih buat belajar anak di rumah. Jadi anak ga akan dipusingkan dengan teori2 yang membuat pikiran mereka rumit. Langsung aja praktek dan kita juga bisa menjelaskannya dengan bahasa yang sederhana ya mba. Trima kasih idenya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama2 mba.... Mendekatkan sains kepada mereka membuat pengalaman belajar jd seru

      Hapus
  3. Iihh seru eksperimennya. Terimakasih sudah berbagi :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama2 mba... Terima kasih kunjungannya

      Hapus
  4. cusss ah coba. aku udh coba beberapa juga eksperimen dr blogmu mbak, thanks ya

    BalasHapus
  5. Wah belum pernah dapat ini saya waktu sekolah dulu.. Keren sekali!!

    BalasHapus
  6. Itu kapas berapinya sebagai matahari ya? 😊 sederhana tapi mengena, anak jd paham. Ikut nyoba yaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kapas/korek apinya buat menambah uap air mba, jadi semakin jenuh awannya, semakin tebal uapnya...

      Hapus
  7. asyiknya dirimu mbak. Bisa dipraktekan bareng si cinta nih. Gak cuma teori tapi visualisasinya dapat via percobaan

    BalasHapus
  8. Eksperimennya ini bisa buat adekku nih mbak, biar bisa belajar sambil bermain... ^^

    BalasHapus