Memulai Tahun Baru dengan How Master Your Habits

/ Januari 13, 2018
Assalamu'alaikum....

This is my very first post about review of a book.

Sudah sejak beberapa bulan lalu sebenarnya saya ingin meresensi buku-buku yang saya baca - tentunya yang paling berkesan, tapi masih maju mundur syantik karena - lagi-lagi terbentur rasa minder,  khawatir membuat pembaca tidak menangkap pesan dari buku itu. Iya, karena sudah pasti tulisan kelas amatir ini jauh levelnya di bawah tulisan si empu gandring (kerisss kaliiii),  si empunya buku maksudnya.

Terus demi apah sayah akhirnya mau?

Tidak lain tidak bukan adalah demi buku yang benar-benar mewakili rencana-rencana yang ada di kepala saya untuk tahun 2018 or so I called resolusi 2018. Yess, this book will lead me to master my plans as my habits.

Klop banget kan? Resolusi sudah dibuat dan saya perlu pemicu buat memulainya. Ibarat sepeda motor, bensinnya sudah penuh dan hanya perlu di-starter buat jalaninnya (Semoga Alloh mudahkan).

How To Master Your Habits

Ini adalah buku kedua yang saya baca dari ust. Felix Siauw. Siapa beliau?  Ah, siapapun yang pernah menjumpainya dan mengikuti "ceramahnya" secara langsung sudah pasti bisa menilai seperti apa kecerdasannya, tak perlu rasanya saya ceritakan lagi. Jadi, ketika beliau meluncurkan buku tidak perlu pikir 2x untuk membelinya. I've to get it.

Ga seperti bukunya yang pertama "Beyond Inspiration" yang penuh dengan motivasi, buku kali ini saya rasakan cenderung lebih "nyantai" karena ga menggebu-gebu seperti yang pertama. Buku ini lebih ke "ngajarin kita bagaimana mengatur hidup agar tercipta kebiasaan-kebiasaan yang baik secara otomatis".

Ah, cucok bingits lah buat yang kemaren pada bikin resolusi.

Wokeeh, sudah siap??

Detail
Penulis                      : Felix Y. Siauw
Penyunting              : Ramadhi
Tata Letak                : Tim AlFatihPress
Perancang Sampul : Tim AlFatihPress
Penerbit                   : AlFatihPress
Cetakan ke-10         : Januari 2015
ISBN                         : 978-602-17997-2-7


πŸƒThe Nature of Habits: Automatically
Sifat alami dari habit adalah bekerja secara otomatis.

Dalam sehari ada 11.000 sinyal yang diterima otak kita. Hanya 40 saja yang diproses secara sadar dan sisanya bekerja secara tidak sadar atau dengan kata lain 95% bekerja secara otomatis. Jadi, respon terhadap sinyal yang datang berasal dari kebiasaan.

*respon misalnya cara berpikir, sikap mental, mood, cara makan, bersikao, berbicara, gaya bahsa, kreativitas, produktivitas, dll

Kalo dalam ilmu fisika ada yang namanya hukum III Newton dimana

F aksi = F reaksi

Setiap ada aksi pasti menimbulkan reaksi. Setiap datang sinyal pasti menghasilkan suatu respon. Otomatis.

Respon yang keluar akan sesuai dengan kebiasaan kita, entah berpikir, bersikap, berbahasa, atau bahkan hanya mengeluarkan mood.  Misal, ada berita tentang demo kaum gay agar mereka diakui dan menuntut kesamaan hak publik atas mereka. Apa yang ada di otak kalian? Apakah seperti "Ya, mereka harus dilindungi karena sama-sama manusia dan hak asasi mereka jika mereka memilih gay"?. Jika ya, berarti selamat anda termasuk kaum pemuja LIBERAL.

⚛️πŸ”€ Genealogy of Habits
Perkenalkan nama saya adalah Habits,  ibu saya bernama Practice,  dan ayah saya so they called Repetition.

Ya, habits adalah hasil perkawinan antara practice (latihan)  dan repetition (pengulangan). Latihan pertama kali biasanya susah tapi jika diulang beberapa kali akhirnya mulai lancar dan diulang kembali terus dan terus hingga lahir sebuah kebiasaan baru yang bekerja secara otomaris, this is new habit.

πŸ”—Installing Habits
Sebelumnya perlu kita ketahui bahwa otak manusia terdiri 1.000.000.000.000 sel syaraf. Masya Alloh, ibuuuk tolong itu bacanya gimana coba πŸ™ˆ. Nah, setiap ada aktivitas baru maka sel syaraf akan terhubung satu sama lain membentuk pola. Awalnya tipis, tapi jika aktivitas itu diulang pola antar sel syaraf akan menebal, semakin diulang semakin tebal. See??

Maka, cara menginstal habits adalah dengan melakukan latihan dan pengulangan demi pengulangan sampai terbentuk pola syaraf yang tebal dan akan bekerja secara otomatis, dengan sendirinya.

Repetisi alias pengulangan sejatinya adalah proses penanaman memori pada tubuh sehingga memori tersebut akan keluar dengan sendirinya karena terpanggil sinyal yang datang.

πŸ’ͺ Bagaimana Membuat Semangat
Satu-satunya jawaban adalah temukan the strong why. Tentu kalian sudah paham apa yang dimaksud, bukan? Tapi izinkanlah saya menuliskan kembali ilustrasi dari buku ini.

Bangsa Jepang adalah bangsa yang sangat menyukai makanan mentah terutama ikan mentah yang segar. Mereka harus mencari ikan segar dengan mengarungi lautan luas. Tapi, ikan hasil tangkapan sudah tidak segar lagi karena perjalanan yang sangat jauh. Aroma ikan itu menurunkan selera makan orang Jepang sehingga harga tangkapan ikan jatuh dan nelayan merugi. Lalu dibuatlah inovasi baru, yaitu lemari pendingin. Namun, dengan resiko pembusukan yang sudah diminimalisir pun penggemar ikan di Jepang masih bisa membedakan mana ikan segar dan mana yang bisa dibekukan. Tidak berhenti sampai di situ, nelayan kemudian melakukan improvisasi. Mereka menempatkan tangki besar di kapal sehingga hasil tangkapan masih hidup ketika dijual. Namun, masalahnya kemudian semakin banyak ikan yang didapat akan semakin sempit pergerakan mereka. Hal ini mempengaruhi tekstur daging ikan. Penggemar fanatik pun masih belum puas. Harga masih belum maksimal. Ide bagus akhirnya muncul untuk menjaga agar ikan tetap bergerak. Mereka memasukkan hiu kecil ke dalam tangki. Ikan tangkapan berenang sekuat tenaga agar tidak dimangsa. That's the strong why
Find your strong why


Review

Buku dengan 169 halaman ini seolah-olah ingin membentuk mindset kita dan mengajari kita bagaimana cara membentuk habits. Sama seperti buku terdahulunya, ust. Felix menyertakan ilustrasi gambar di setiap halamannya. Menurut saya ini ide yang brilian, karena selain membaca tulisannya yang menggugah, pembaca juga diajak berimajinasi dengan gambar di setiap halamannya dimana gambar itu masih related dengan tulisan per halaman. Sepertinya beliau mau mengajak balancing between right and left brain. So cool!

Tapi, saya merasa ada banyak pengulangan tentang konsep habits di setiap bab hingga saya bisa menebak apa yang akan ditulis beliau di halaman berikutnya. Hmm, bukannya mau sotoy ya, tapi kalo kalian baca sendiri pasti paham deh maksudnya. Tetapiiiii, di luar itu semua hampir semua bab benar-benar menyuguhkan pengetahuan baru bagi saya.

Seperti apa?

Misal;
Berapa lama waktu yang diperlukan untuk membentuk habits
Milestone atau panduan dalam membentuk habits
Bahwa pembentukan habit seperti pembuatan jalan raya, dimana syaraf otak akan membentuk jaringan seperti jalan di kota, semakin luas dan banyak maka semakin cepat transportasi informasi lalu lalang.

Recomended?
Yes, ini recomended banget. Buku wajib buat yang katanya ingin meningkatkan kualitas hidup, menumbuhkan kebiasaan baik, menguasai keahlian tanpa motivasi, bahkan tanpa berpikir πŸ€—.

Oke temaaaans, semoga bermanfaat ya. Salam master your new habit in this new year. Yeaaah! πŸ’ͺ




Assalamu'alaikum....

This is my very first post about review of a book.

Sudah sejak beberapa bulan lalu sebenarnya saya ingin meresensi buku-buku yang saya baca - tentunya yang paling berkesan, tapi masih maju mundur syantik karena - lagi-lagi terbentur rasa minder,  khawatir membuat pembaca tidak menangkap pesan dari buku itu. Iya, karena sudah pasti tulisan kelas amatir ini jauh levelnya di bawah tulisan si empu gandring (kerisss kaliiii),  si empunya buku maksudnya.

Terus demi apah sayah akhirnya mau?

Tidak lain tidak bukan adalah demi buku yang benar-benar mewakili rencana-rencana yang ada di kepala saya untuk tahun 2018 or so I called resolusi 2018. Yess, this book will lead me to master my plans as my habits.

Klop banget kan? Resolusi sudah dibuat dan saya perlu pemicu buat memulainya. Ibarat sepeda motor, bensinnya sudah penuh dan hanya perlu di-starter buat jalaninnya (Semoga Alloh mudahkan).

How To Master Your Habits

Ini adalah buku kedua yang saya baca dari ust. Felix Siauw. Siapa beliau?  Ah, siapapun yang pernah menjumpainya dan mengikuti "ceramahnya" secara langsung sudah pasti bisa menilai seperti apa kecerdasannya, tak perlu rasanya saya ceritakan lagi. Jadi, ketika beliau meluncurkan buku tidak perlu pikir 2x untuk membelinya. I've to get it.

Ga seperti bukunya yang pertama "Beyond Inspiration" yang penuh dengan motivasi, buku kali ini saya rasakan cenderung lebih "nyantai" karena ga menggebu-gebu seperti yang pertama. Buku ini lebih ke "ngajarin kita bagaimana mengatur hidup agar tercipta kebiasaan-kebiasaan yang baik secara otomatis".

Ah, cucok bingits lah buat yang kemaren pada bikin resolusi.

Wokeeh, sudah siap??

Detail
Penulis                      : Felix Y. Siauw
Penyunting              : Ramadhi
Tata Letak                : Tim AlFatihPress
Perancang Sampul : Tim AlFatihPress
Penerbit                   : AlFatihPress
Cetakan ke-10         : Januari 2015
ISBN                         : 978-602-17997-2-7


πŸƒThe Nature of Habits: Automatically
Sifat alami dari habit adalah bekerja secara otomatis.

Dalam sehari ada 11.000 sinyal yang diterima otak kita. Hanya 40 saja yang diproses secara sadar dan sisanya bekerja secara tidak sadar atau dengan kata lain 95% bekerja secara otomatis. Jadi, respon terhadap sinyal yang datang berasal dari kebiasaan.

*respon misalnya cara berpikir, sikap mental, mood, cara makan, bersikao, berbicara, gaya bahsa, kreativitas, produktivitas, dll

Kalo dalam ilmu fisika ada yang namanya hukum III Newton dimana

F aksi = F reaksi

Setiap ada aksi pasti menimbulkan reaksi. Setiap datang sinyal pasti menghasilkan suatu respon. Otomatis.

Respon yang keluar akan sesuai dengan kebiasaan kita, entah berpikir, bersikap, berbahasa, atau bahkan hanya mengeluarkan mood.  Misal, ada berita tentang demo kaum gay agar mereka diakui dan menuntut kesamaan hak publik atas mereka. Apa yang ada di otak kalian? Apakah seperti "Ya, mereka harus dilindungi karena sama-sama manusia dan hak asasi mereka jika mereka memilih gay"?. Jika ya, berarti selamat anda termasuk kaum pemuja LIBERAL.

⚛️πŸ”€ Genealogy of Habits
Perkenalkan nama saya adalah Habits,  ibu saya bernama Practice,  dan ayah saya so they called Repetition.

Ya, habits adalah hasil perkawinan antara practice (latihan)  dan repetition (pengulangan). Latihan pertama kali biasanya susah tapi jika diulang beberapa kali akhirnya mulai lancar dan diulang kembali terus dan terus hingga lahir sebuah kebiasaan baru yang bekerja secara otomaris, this is new habit.

πŸ”—Installing Habits
Sebelumnya perlu kita ketahui bahwa otak manusia terdiri 1.000.000.000.000 sel syaraf. Masya Alloh, ibuuuk tolong itu bacanya gimana coba πŸ™ˆ. Nah, setiap ada aktivitas baru maka sel syaraf akan terhubung satu sama lain membentuk pola. Awalnya tipis, tapi jika aktivitas itu diulang pola antar sel syaraf akan menebal, semakin diulang semakin tebal. See??

Maka, cara menginstal habits adalah dengan melakukan latihan dan pengulangan demi pengulangan sampai terbentuk pola syaraf yang tebal dan akan bekerja secara otomatis, dengan sendirinya.

Repetisi alias pengulangan sejatinya adalah proses penanaman memori pada tubuh sehingga memori tersebut akan keluar dengan sendirinya karena terpanggil sinyal yang datang.

πŸ’ͺ Bagaimana Membuat Semangat
Satu-satunya jawaban adalah temukan the strong why. Tentu kalian sudah paham apa yang dimaksud, bukan? Tapi izinkanlah saya menuliskan kembali ilustrasi dari buku ini.

Bangsa Jepang adalah bangsa yang sangat menyukai makanan mentah terutama ikan mentah yang segar. Mereka harus mencari ikan segar dengan mengarungi lautan luas. Tapi, ikan hasil tangkapan sudah tidak segar lagi karena perjalanan yang sangat jauh. Aroma ikan itu menurunkan selera makan orang Jepang sehingga harga tangkapan ikan jatuh dan nelayan merugi. Lalu dibuatlah inovasi baru, yaitu lemari pendingin. Namun, dengan resiko pembusukan yang sudah diminimalisir pun penggemar ikan di Jepang masih bisa membedakan mana ikan segar dan mana yang bisa dibekukan. Tidak berhenti sampai di situ, nelayan kemudian melakukan improvisasi. Mereka menempatkan tangki besar di kapal sehingga hasil tangkapan masih hidup ketika dijual. Namun, masalahnya kemudian semakin banyak ikan yang didapat akan semakin sempit pergerakan mereka. Hal ini mempengaruhi tekstur daging ikan. Penggemar fanatik pun masih belum puas. Harga masih belum maksimal. Ide bagus akhirnya muncul untuk menjaga agar ikan tetap bergerak. Mereka memasukkan hiu kecil ke dalam tangki. Ikan tangkapan berenang sekuat tenaga agar tidak dimangsa. That's the strong why
Find your strong why


Review

Buku dengan 169 halaman ini seolah-olah ingin membentuk mindset kita dan mengajari kita bagaimana cara membentuk habits. Sama seperti buku terdahulunya, ust. Felix menyertakan ilustrasi gambar di setiap halamannya. Menurut saya ini ide yang brilian, karena selain membaca tulisannya yang menggugah, pembaca juga diajak berimajinasi dengan gambar di setiap halamannya dimana gambar itu masih related dengan tulisan per halaman. Sepertinya beliau mau mengajak balancing between right and left brain. So cool!

Tapi, saya merasa ada banyak pengulangan tentang konsep habits di setiap bab hingga saya bisa menebak apa yang akan ditulis beliau di halaman berikutnya. Hmm, bukannya mau sotoy ya, tapi kalo kalian baca sendiri pasti paham deh maksudnya. Tetapiiiii, di luar itu semua hampir semua bab benar-benar menyuguhkan pengetahuan baru bagi saya.

Seperti apa?

Misal;
Berapa lama waktu yang diperlukan untuk membentuk habits
Milestone atau panduan dalam membentuk habits
Bahwa pembentukan habit seperti pembuatan jalan raya, dimana syaraf otak akan membentuk jaringan seperti jalan di kota, semakin luas dan banyak maka semakin cepat transportasi informasi lalu lalang.

Recomended?
Yes, ini recomended banget. Buku wajib buat yang katanya ingin meningkatkan kualitas hidup, menumbuhkan kebiasaan baik, menguasai keahlian tanpa motivasi, bahkan tanpa berpikir πŸ€—.

Oke temaaaans, semoga bermanfaat ya. Salam master your new habit in this new year. Yeaaah! πŸ’ͺ




Continue Reading
Assalamu'alaikum . . . .

Ini tulisan perdana aku di tahun 2018. Sebenarnya ada banyaaaak sekali ide di kepala buat tema tulisan, tapi aku syediih karena sering kebentur me-time yang ga seberapa. Sedangkan kalo mau nulis biasanya aku riset kecil-kecilan dulu dengan mengumpulkan tulisan orang yang bertemakan sama.

Jadi, daripada ga rilis-rilis tulisan terbaru, membuat blogku semakin menjadi butiran debu 😒 akhirnya malam ini aku putuskan untuk menulis ini sajah.

Ngeblog? Why Not? 

Kenapa aku ngeblog?

Pertanyaan ini sebenarnya udah terjawab di beberapa tulisanku sebelumnya. Beberapa kali aku bilang bahwa aku sedang men-terapi diriku sendiri, self-healing from my post partum depresion. Dan ini work banget bagi aku. Alhamdulillah sekali. Semenjak aku nulis di blog emosiku benar-benar menemukan jalan keluarnya. Bukan, bukan dengan kata-kata kasar yang aku tulis. Aku justru berusaha menulis sesuatu yang berfaedah bagi orang dan tentunya bagi diriku. Proses menguraikan kata-katanya itulah yang menjadi healing bagiku. Aku tak tau persis kenapa bisa begitu. Tapi, aku berharap suatu hari bisa menemukan jawabannya.

Kenapa aku ngeblog???

Karena aku perempuan. Sudah menjadi tabiatnya kaum hawa mengeluarkan kata-kata  lebih banyak daripada bani adam. 20.000 kata vs 7.000 kata! Jadi, wajar kalo perempuan itu lebih cerewet daripada lelaki. Entah itu kata-kata lisan atau dikeluarkan lewat goresan tangan. Intinya, harus dikeluarkan! Kalo tidak bagaimana?? Hmm, ya siap-siap "nyampah" dimana-mana πŸ˜‚ . Bagiku ngeblog berarti mengurangi "sampah"  itu dan mengelolanya menjadi "sesuatu" yang lebih rapi dan tersusun, bermanfaat bagi banyak orang, dan bisa mengukur kemajuan diriku. Yess, I choose for having a blog.

Kenapa aku ngeblog???

Aku merasa ditakdirkan menjadi wanita non verbal. Aku ga pandai bicara, aku sering salah mengungkapkan sesuatu, juga sering salah ucap *hedeeeh 😣. Makanya aku lebih suka menulis. Lewat tulisan orang bisa tau maksudku apa. Lewat tulisan mereka bisa memahami pemikiranku. Lewat tulisan aku bisa mengungkapkan semua apa yang ingin aku ungkapkan.

Kenapa aku ngeblog???

Kalian tau, sebenarnya Fika SD dan Fika SMP adalah orang yang cukup "banyak omong" , cas cis cuss wes lah pokoknya, ga malu-malu. Sekarang?? πŸ˜… Padahal seperti yang kalian tau, skill bahasa itu memperlihatkan kecerdasan si empunya. Berarti gueh?? πŸ™ˆ dengan berat hati aku katakan, iya, aku mengalami kemunduran dalam kecerdasan 😭.

Awal kuliah adalah momen yang aku curigai sebagai asal muasal degradasi itu. Belum lihai bersepeda motor membuatku dirundung cemas setiapkali berjalan di ibukota provinsi tempatku kuliah. Sering sekali aku terjatuh dari sepeda dan unfortunately selalu kepala jadi korban. Mungkin sambungan sinaps di otakku banyak yang putus, singkat cerita aku jadi susah berkomunikasi sejak itu dan untuk mencapai target IPK yang aku inginkan harus jatuh bangun mengejarnya. Memahami pelajaranpun jadi susah. Sungguh sebenarnya aku ga suka menceritakan ini πŸ’”πŸ’”πŸ’”, benar-benar membuatku menjadi reremahan debu kosmik yang melayang-layang di angkasa.

Oleh karenanya aku ingin "membangun" kembali  syaraf-syaraf itu -kalopun bisa. Dengan apa? Yaa dengan menulis ini. Karena menulis aku harus memilih kata, belajar mengungkapkan apa yang aku pikirkan, mencari data penunjang tulisan, dan selalu berpikir bagaimana tulisan bisa bermanfaat bagi orang lain dan diriku. Yess, with blogging I can push my self to activate neurons.

Itulah beberapa poin yang menjadi alasan kuatku membuat blog ini. Kata orang blogger lagi naik daun ya? Aku jawab meneketehe alias I don't care. Karena aku menulis bukan untuk ikut-ikutan, kekinian, ngetrend, atau bla bla bla bla. Aku hanya ingin menulis untuk kesehatan jiwa dan otakku.

Salam coret-coreett!

Ngeblog? Why Not?

by on Januari 11, 2018
Assalamu'alaikum . . . . Ini tulisan perdana aku di tahun 2018. Sebenarnya ada banyaaaak sekali ide di kepala buat tema tulisan, t...
Assalamu'alaikum....

Siapa nikah muda? Aku? Masa?? *mirrortalk

Agak sulit ketika mba Winda melemparkan ide ini buat collab kami #curcolanfikawinda yang kedua kali. Tapi, demi menyenangkan dirinya yang sedang sedih baiklaaah aku terima tantangannya *resikoanakbaik.  Iya, agak menantang secara aku ga pede kalo dibilang nikah muda.

Trus siapa donk yang nikah muda? Kamu. Iya, kamu aja, ya.. *LoL

Oya, baca juga Kenapa Nikah Muda versi mba Winda

For the very first time, sebelum aku iyakan tema yang diajukan ini, aku searching dulu kaan definisi nikah muda. Dari sumber-sumber yang kudapat bisa ditarik benang merahnya bahwa yang dikatakan nikah muda adalah seseorang yang menikah di di rentang usia 20 - 25.

Berarti Ibu masuk nikah muda nih yee...

Eh iyaa, diriku masuk berarti yah?? Secara nikah di umur 23 tahun 4 bulan 20 hari *yessss *kibasjilbab.

Sebelumnya aku pikir nikah muda itu antara 18 - 21. Sedangkan usia 22 ke atas itu masuk usia "mapan menikah". Entah dapat darimana definisinya yang kudapat kemaren.  Ternyata baru aku tau bahwa  sebelum 25 sudah masuk nikah muda dan usia yang dianjurkan untuk menikah justru 25, 26, 27 (nyenengin temen yang masih single ya, Bu πŸ™ˆ).

🌷🌷🌷

Dulu zaman SMA aku suka bikin target harian, apa aja yang bakal  dilakukan ditulis di buku agenda sehingga terencana kegiatan setiap harinya.  Karena biasa bikin target aku jadi kebabalasan mentarget usia nikah. Padahal saat itu masih 17 18 tahun. Demi apaaa cobaa???  Ga tauu, mau aja gitu bikin target menikah. Aku dulu menarget umur 22. Kenapa 22? Karena 2 itu angka cantik, girly number, enak diingat.  Dah gitu aja. Sungguh tidak idealis sekali alasannya πŸ˜’.

Pas kuliah target itu makin maju seiring melihat teman-teman yang nikah sambil kuliah. Enak kali ya punya suami pas kuliah. Ada yg nganterin, jemput, ngerjain tugas bareng, makan di kantin bareng. Kaya orang pacaran.  Bhaaayyy....  Dulu liatnya yg indah-indah aja sih.

Jadi, pengen juga kan ceritanya waktu itu. Semester 8 deh dilamar ga apa-apa. Pas PPL ada yg khitbah juga boleeh. Eaaaa, ketauan kepengen banget nikah. Tapi sayang ga ada yang mauu sama akuuuh😭. Ya iyalaaah, siapa juga yang mau sama ciwi yang mukanya kusam tak terawat, jerawat, plus pemarah.  Tak ada....


Long short story, sampai saya wisuda pun tak ada tanda-tanda lelaki yang punya keinginan bertandang ke rumah. Padahal target aku 22 kaan, berarti ini sudah mau lewat πŸ’”*gigitjari. Hahaha, cemas sendiri waktu itu. Masa harus pacaran? Aku kan ga bisa *soklugu

Dan puji syukur ke hadirat Alloh, saat umur 23 tahun 1 bulan 18 hari hari tanda-tanda jodoh itu mulai nampak hilalnya πŸ˜…. Cerita lengkap sudah pernah aku tulis.

Baca juga: How I Met My Soulmate

Walau yang datang tidak seperti yang aku tulis di "resolusi jodohku",   tapi sungguh-guh tidak pernah aku menyangka si doi yang bakalan datang. Honestly,  selain pasang target usia aku juga bikin kriteria tentang si calon imam yang macam anak pesantren, punya hafalan, suka ke pengajian, bla bla bla bla (dih, ga ngaca πŸ™ˆ).  Tapi, Alloh kirimkan malaikat yang lain.

Teman-temanku yang tau proses ini dari awal selalu bilang "how lucky am I". Ya, beruntung katanya. Bahkan aku yang tak sebijipun menuliskan kriteria profesi untuk si calon masih takjub bagaimana bisa aku yang oon ini berjodoh dengannya πŸ˜†.

Kenapa Aku Nikah Muda? 
Only 2 the answer of this why;

1. Karena Alloh sudah gariskan

Iya, kalo Alloh sudah takdirkan kun fayakun pastinya. Aku memang menarget nikah muda dan Alloh iyakan, alhamdulillaah tercapai. Jadi, bagi yang sudah menarget tapi belum tercapai yakinlah Alloh sudah menggariskan yang terbaik dan mempertemukan kalian dengan orang yang tepat di waktu yang tepat.

Aku punya cerita, yang diceritakan oleh temenku, dia murid mama dulu dan kebetulan seumuran. H+1 dia resepsi aku berkunjung ke rumahnya karena suatu hal. Dia cerita bahwa suaminya itu adalah temen kuliahnya, sekelas. Selama kuliah bukan dengan dia pacarannya, tapi dengan  orang lain. Iya, dengan ciwi lain pacaran. Setelah lulus kuliah barulah sejoli itu bertemu lagi dan langsung menikah! Si ciwi tadi kemana? Ternyata baru diketaui kalo si ciwi itu meninggal H-1 bulan pernikahan mereka. Innalillahi....  Katanya karena penyakit sih. Hmm, see? Alloh akan mempertemukan kalian dengan orang yang tepat di waktu yang tepat.

2. Karena Aku Mau 

Wahaha, sumvah ini nulisnya malu-malu kucing garong πŸ….  Iya, karena aku yang memang mau nikah muda, kan udah panjang kali lebar aku tulis sebelumnya πŸ™ˆ. Aku perempuan normal, percayalah. Sebagai perempuan normal yang juga dikarunia gharizah na'u, perasaan mencinta dan ingin dicintai, aku juga sama seperti perempuan lainnya yang membutuhkan sesosok pria yang bisa menaungi, menjaga, memelihara, merawat (tanaman kalii ah). Tapi, yaa gitu dah, sebelum ketemu si doi, selain karena alasan agama, diriku pribadi juga punya semacam alarm. Jadi, kalo ada yang mendekat secara progressif (walaupun sebelumnya masAnang bilang "iyess") tetep nyala itu alarm. Alarm apaan sih? Alarm hati so I called ILLFEEL πŸ™Š. Ketika ada yang mendekat ada perasaan tetiba ga suka, tetiba menjauh, tetiba mau melumpuhkan ingatannya tentang diriku *eaaaa. Aneh kan ya?  Tapi sekarang aku patut bersyukur karena alarm itu kemudian jadi selektor jodohku kelak. Hihihi....

Iya, aku nikah muda karena aku mau, gengs. Pengen juga kali kaya orang bisa makan berdua, bercanda berdua, sayang-sayangan berdua, saling memotivasi. Duh, keren kali temen-temen yang nikah saat kuliah itu. Merengguk pahala setiap saat tanpa takut dosa karena sudah halal.

Iya, jadi cuman 2 faktor itulah aku nikah muda, gaesss. Ga banyak kan? Karena aku mau dan Alloh izinkan maka terjadilah *blessing.

Suami juga termasuk yang nikah muda. Karena pas kami nikah dia umurnya 25 tahun. Untuk profesinya bahkan dia belum 100% lulus kuliah dan belum boleh kerja sebelum mengantongi izin yang nunggungnya berbulan-bulan lamanya.

Sebagai perempuan wajar aku pikir jika ingin nikah muda karena fisik selagi muda lebih bisa diandalkan. Aktivitas setelah menikah membuat energi cepat terkuras, sungguh! Hamil, melahirkan, merawat anak, benar-benar tidak ada yang mengalahkan aktivitas-aktivitas super itu. Jadi, aku pikir I've decided the right choice.

Namun begitu, ada juga perempuan yang tidak terlalu berhasrat dengan pernikahan karena pikirannya dipenuhi hal lain. Misalnya, karena punya ambisi study atau karier. Aku punya teman SD yang sampai diriku sudah beranak dua dia bahkan ditawari berkenalan dengan lelaki saja bergeming (apalagi menikah). Dia keukeuh dengan pendiriannya, S2 dulu baru menikah, macam iklan skincare itu. Padahal posisinya sekarang belum S2, dia masih mengumpulkan biaya untuk itu. Dalam hati terbesit perasaan malu, betapa gigihnya niatnya untuk belajar dibanding diriku πŸ™ˆ.

Nah, mulai deh ngerasa inferior lagi. Huhuhu... Iya, ini sifat burukku. Aku suka ngerasa jauh ketinggalan dibanding teman-temanku dulu. Mereka udah lulus S2, aku harus cukup dengan S1. Mereka udah pada jadi dosen, aku jadi gurupun tidak. Mereka berkarir dan melejit aku masih di sini tertatih-tatih membangun afirmasi positif. Errrrr....  Ketika aku mulai inferior aku merasa paling ga ada gunanya πŸ’”πŸ˜­.

Mulai deh Ibuk ya curcolnya, hmmm... Kebiasaan deh πŸ˜’πŸ˜’.

Eh iyaa, maaf temaans πŸ™ˆ. Oke kita lanjut lagi ya tentang nikah muda πŸ€—.

Benefits of Nikah Muda

Bagi kalian-kalian yang menikah di usia 26 ke atas sudah pasti kalian akan lebih segala-galanya dibanding kami yang menikah kala semua hal belum mapan. Maka, izinkanlah diriku menguraikan benefits of nikah muda sebagai balancing atas ke-inferior-an ini.

1. Lebih Romantis
Bukan melulu makan bakso berdua, berboncengan sambil memeluk pinggang, atau tersenyum malu-malu saat beradu pandang. Iya, itu romantis,tapi ada yang lebih romantis. Kala susah mendaki di awal kita berpegangan. Kala tersungkur kita saling menguatkan. Kala masih berkekurangan kita berjuang mencukupkan. Kala-kala itu adalah waktu yang romantis dikenang di kemudian hari saat keadaan membaik perlahan atas izin Alloh. Kita menuju mapan bersama dan selalu mengingat saat sakit berdua. Itu romantis. Semoga Alloh memudahkan kita menjadi hamba yang selalu bersyukur. Aamiin

(Baca juga cerita ku tentang pengalaman hidup di pedalaman)
HR Ibnu Majah

2. Lebih Bersemangat
Aku pernah menanyai suami apakah dia menyesal sudah memilih menikah "dini"? Sedangkan teman-temannya sudah asyik melanjutkan kuliah tanpa terbebani tanggungan hidup anak istri, beberapa juga berganti mobil keluaran terbaru sedangkan kami hanya bisa puas melihat mobil Taruna keluaran 2001 bertengger di garasi. Jujur, aku beberapa kali merasa "bersalah" hingga terucap "Seandainya kaka ga nikah dulu, pasti sudah sekolah lagi, pasti udah punya mobil bagus, tabungan yang banyaaak" dan dia jawab "aku lebih kaya dari mereka koq. Aku punya istri dan anak-anak, mereka belum. Aku juga udah punya rumah, mereka belum. Udah ada mobil juga ini, ga papa ga baru". Dear, may I melted?

Ya, tabungan kami ga seberapa, mobil juga apa adanya, investasi? Jangan ditanya plis. Tapi dia sungguh seorang pekerja keras. Dia bersemangat dengan pekerjaannya (setidaknya yang aku lihat karena dia punya skill-skill tertentu yang teman sejawatnya tidak punya). Ya, dia lebih bersemangat karena dia merasa punya tanggung jawab penuh atas kami. May Alloh bless you πŸ’ž.

3. Lebih terjaga
Ingat sekali dulu awal menikah rasanya ingin aku pamerkan ke penjuru dunia cincin kawin itu πŸ˜†. Walau cuma cincin tapi sangat ampuh meredam tingkah anak muridku dulu yang sok-sok menjahiliku. Haha... Resiko guru baru katanya begitu.  Setelah aku menikah aku merasa mereka semua tiba-tiba jinak dan hilang semua kejahilannya padakuπŸ˜‚.

Bagi pihak pria dengan menikah lebih kentara manfaatnya. Yeaah, you know kaum adam memang dikarunia fitrah seksual yang tinggi. Dan dengan menikah fitrah itu tersalurkan dengan baik dan benar. Ini sudah tidak perlu dibahas panjang lebar lagi nampaknya. Sudah jelas sekali. Hehe....
HR At-Tabarani dan Hakima

4. Lebih berstamina
Maksudnya lebih bisa mengiringi pertumbuhan dan perkembangan anak. Lelaki yang menikah usia 35 akan menemukan anak tertuanya kuliah kelak ketika usianya sudah 50-an. Saat itu stamina sudah mulai melemah. Itu baru anak sulung, belum lagi adik-adiknya. Lain lagi kalau si ayah sudah menyiapkan investasi jangka panjang.

Hmm, oke itulah sedikit dari benefits of nikah muda. Sedikit? Iya, seenggaknya ada 5 sampai 9 lagi kalo aku rajin nulis πŸ˜‚.

Semoga apapun kalian, tim nikah muda atau nikah mapan, semoga jodohmu adalah orang yang bisa membawamu bersama-sama meniti jalan syurga. Aamiin Ya Mujiibassailin.

Semoga bermanfaat


Seorang teman pernah menanyaiku,  "kalau seumpama kamu adalah kupu-kupu yang terbang di atas taman bunga yang sedang bermekaran apa yang akan kamu lakukan? Hinggap ke salah satu bunga atau berterbangan di atas taman menikmati semua bunga yang ada?" 

Assalamu'alaikum . . . .

Sudah di penghujung bulan Desember 2017 nih, artinya sebentar lagi detik-detik keberangkatan kapal 2018 akan segera dimulai. Sudah siapin bekalnya belum?

Baca juga: My 2018 Resolution

Desember. Bulan ini punya banyak makna bagi banyak orang. Desember di kalender berarti penanda akhir tahun sekaligus awal tahun. Desember dilihat dari ilmu Geografi berarti bulan dengan curah hujan yang tinggi (kalo kata orang Jawa, desember means deres-derese sumber). Bagi karyawan perusahaan Desember berarti kebahagiaan tersendiri karena bonus akhir tahun biasanya akan diterima walaupun ada pula yang gondok setengah mati karena justru gaji terakhirnya dipotong 50% buat bayar pajak *cie curcol.

Kalo bagi kalian apa makna bulan Desember,  gengs??

Kalo Desember bagi aku, emmmm seperti yang sudah terpampang jelas di judul. Yes, this month is all about my very first meeting with my husband πŸ’ž.

(Dari tadi pengen banget bikin disclaimer tapi maju mundur. Anu, cuma mau bilang tolong jangan baper. Cerita di bawah ini mungkin banyak sisi kenarsisannya secara halus tapi sungguh saya tidak bermaksud membuat baper jomblo-jomblo di luar sana apalagi membanggakan diri sendiri. Yang mau baca silakan dilanjut, yang ga berkenan silakan out! *kejaaaam πŸ˜‚)


Desember 2012

Baiklah, cerita itu akan aku mulai dari sini.

8 Desember 2012, sore itu aku janjian dengan sahabat kecilku. Hawa dingin bulan itu membuatku ingin menyeruput kuah bakso. Jadilah sore itu jadwal kami bertemu di warung bakso. Sebenarnya acara itu lebih dari sekedar makan bakso, aku ingin mengeluarkan semua uneg-unegku. Simpel saja sebenarnya, hanya uneg-uneg seorang perawan yang udah kelewat target menikah *LOL

Ceritanya, saat itu aku sedang dekat dengan seseorang yang ternyata temen kerjanya sahabatku. Kita deket tapi ga pacaran sih. Deket tapi bertujuan, ga ngambang, dan dianya jelas kok kemana arahnya. Dia ada niat dan akupun waktu itu suka. Bak gayung bersambut lah. Awalnya sih baik-baik saja, sampai suatu saat aku merasakan hal yang sama seperti yang sudah-sudah.

"Tya, kenapa ya muncul lagi perasaan itu? Tiba-tiba illfeel" kataku

Si sahabat ini yang sepertinya sudah nebak cuman bisa menanggapi sekedarnya. Iya, dia sudah tau kebiasaanku kalo udah berhubungan dengan lelaki. Aku juga ga tau, kenapa SELALU tetiba punya perasaan illfeel saat ada cowok yang mau mendekat padahal awalnya biasa aja. Kebiasaan mulai sekolah ini membuat aku hampir ga punya mantan.

Jujur ya waktu itu aku takut dengan perasaan aneh itu, sampai aku berpikir jangan-jangan aku punya kelainan πŸ˜‚.

Belum habis bakso di mangkuk, mama nelpon dan bilang kalo ada temen yang ke rumah. Nadanya riang dan ga keberatan saat aku bilang agak lama baru pulang. Bingunglah aku siapa gerangan teman yang membuat mama seriang itu.

Kalian bisa tebak siapa yang datang?

Saat masuk rumah dengan dipenuhi tanda tanya di kepala, aku melihat ada seorang perempuan paruh baya dengan anak perempuan nya seumuran denganku, sedang duduk ditemani mamaku. Refleks saja aku salim dan cium tangan ibu itu dengan pedenya, padahal masih dengan jaket kumal bau matahari. Aku merasa bersalah dengan beliau sudah menunda kepulangan demi bakso yang belum habis dilahap. Aku pikir cuman temen aja yang datang seperti kata mama.

Duduklah aku di sofa dan menerka-nerka tujuan beliau ini ke rumah. Awalnya sama sekali kutakpaham karena sungguh banyak yang diceritakan sampai akhirnya beliau cerita tentang anak sulungnya, lelaki. Oh tidaak, ini maksudnya apa ya?? Dijodohin gitu??

Honestly, saat itu aku belum terlalu respek dengan beliau karena aku masih punya masalah sendiri yang belum tuntas. Tapi kemudian hari aku justru harus angkat topi.

***
Seminggu sebelumnya sebenarnya aku sudah bilang sama mama kalo ada yang dekat, aku ceritakan sedikit perihal tentangnya. Tapi respon mama seperti ga yakin gituπŸ’”.  Aku bilang dengan cowok itu kalo mama masih belum yakin dan dia minta aku yakinin mama terus. Dan di sinilah pertama kali muncul perasaan illfeel itu.

Aku yang lagi galau saat itu entah kenapa langsung ngasih tau ke cowok itu kalo tadi sore ada yang ke rumah bla bla bla bla. Intinya dia nangkap maksud aku dan langsung pengen ke rumah ketemu mama, biar fair katanya. Aku yang saat itu udah terlanjur ga nyaman langsung menolak idenya. Percuma dalam hatiku.

Singkat cerita reaksi dia selanjutnya membuat nafsu makanku menguap entah kemana.

Sepertinya aku sudah terlalu kasar tapi aku harus tegas karena "alarm"  diriku sudah menyala. Apalagi ditambah kedatangan "tamu tak diundang" sore itu membuat mama sudah memilih sikap.

***

Besoknya, berbekal nama akun Facebook yang diberikan ibu tadi aku dan mama mencari foto-fotonya. Ternyata banyaak bangett. Hahaha. Rupanya dia masuk tim narsis. Baru kutau kemudian hari, saat itupun dia sedang mengubek-ubek galeri Facebook ku dan menemukan tak satupun fotoku di sana. Maaf ya kakang mas, sudah bikin penasaran kamuh πŸ˜†.

Chat pertama kami adalah via inbox Facebook (saat itu belum ada messanger) dan dia ngasih tau kalo sepekan lagi mau ke rumah.

Kalo kalian pikir aku hepi kalian salah. Aku mumeeett gaesss.  Masalah satu belum tentu selesai sudah ada yang lain lagi.

Beberapa hari sebelum kedatangannya, aku merasa harus mencari "pelarian" atas ketegangan otakku ini. Aku memutuskan main ke rumah salah satu temen kecilku. Di sana aku berharap bisa sejenak refreshing berhaha-hihi. Tapi takkusangka ternyata temen aku tau perihal kedatangan ibu itu dan akhirnya justru aku di"bully"nya *kzl. Saat pulang dari rumahnya aku ga sengaja ketemu guru TK ku yang kebetulan bersebelahan dengan rumahnya. Sekali lagi takkuduga beliau menyoal cerita yang sama,"Fika, sama anaknya bu Atul ya? Cocok koq. Ya, mau aja ya?!"

Kalian ga akan tau betapa saltingnya aku saat itu.  Duh, belum apa-apa kenapa beritanya sudah kemana-mana? Belum kenal sama sekali, belum pernah ketemu, gimana kalo ga jadi, kan maluuu 😫

Aku dan Mereka-ku

14 Desember 2012, bada ashar seperti janjinya, mereka ke rumahku, si dia, mamanya dan tak lupa anak perempuanya yang kemarin, si navigator.

Sore itu ditemani hujan rintik aku beralibi membuat teh di dapur untuk mereka. Tapi setengah jam tak kunjung datang, mama masuk ke dapur untuk memastikan. Apa yang terjadi?? Tehnya sudah siap tidak kurang apapun, tapi......  kakiku kaku-kaku kakaaaakks! Kakiku berat sekali dilangkahkan, tanganku dingin macam es. Mama cuma bisa tertawa melihat anak gadisnya begini-begini amat. Hahaha. Lebay? Iya, mungkin. Tapi bagi kalian yang hampir ga pernah pacaran, punya daftar temen cowok seuprit, kontak laki-laki cuma sebiji dua biji, pasti maklum kenapa diriku selebay ini.

Akhirnya dengan perjuangan berat aku melangkahkan kakiku ke ruang tamu. Seandainya aku boleh minta tak usah saja ada acara seperti itu, asli rikuh banget, canggung malu campur jadi satu. Tapi kata orang awkward momen begini yang bisa dikenang selamanya.

Duduklah diriku di sofa, paling pinggir. Demi mencairkan suasana akupun ikut tertawa saat yang lain tertawa. So many thanks buat mama mertuaku yang punya seribu cerita untuk mengurangi kerikuhan kami.

Sepanjang pertemuan itu aku tau si dia beberapa kali mencuri pandangan ke arahku untuk kemudian menunduk malu-malu. Aku? Jangankan memandang, melirik pun kutaksanggup. Haha

Singkat cerita, kami pun bertukar nomor hape setelah disuruh. Dan komunikasipun berlanjut.

Sebulan berlalu setelah pertemuan itu. Apa yang aku rasakan? Hmm, entahlah. Yang pasti ini sesuatu yang berbeda dengan sebelumnya. Sampai sejauh perasaan illfeel itu belum muncul (atau tidak akan?).

Aku tau dia belum lulus sepenuhnya dari pendidikan profesinya. Bahkan untuk bekerja dia harus mengantongi STR dulu dan itu baru bulan Agustus paling cepat. Aku katakan kalo aku siap saja memutus taaruf ini kalo memang dia belum siap dalam jangka waktu dekat meminang. Toh kalo memang jodoh pasti akan bertemu juga, begitu pikirku. Tapi balasannya sungguh di luar dugaanku. Dia justru mengajukan bulan April sebagai pengikat kami berdua di mata Alloh -yang kemudian dimajukan lagi ke bulan Maret.

So many thanks again buat mama dan abah mertua yang bersedia memberikan tumpangan sementara kami belum mapan. Semoga Alloh balas dengan sebaik-baiknya pembalasan. Aaamiin!

Baca juga: Belajar Hidup di Pedalaman

Bulan Januari dan seterusnya aku semakin merasakan kecocokan dengan si dia. Ada secuil perasaan damai, aman, tenang, semacam ada perasaan yang tergenapi. Ah, aku susah mendeskripsikannya tapi bagi ciwi-ciwi yang pernah berada di masa yang sama denganku pasti mengerti.

Ga tau kenapa beda aja gitu, ga ada sama sekali muncul illfeel. Padahal diriku sudah siap menyambut sang "illfeel" 

Apakah perjalanan taaruf kami baik-baik saja? Alhamdulillah.  Alhamdulillah ada sedikit terganggu maksudnya, haha. Ya, tetap bersyukur karena gangguan ini cerita taaruf kami menjadi berwarna.

Kalo aku boleh dikata hampir tidak pernah pacaran (pernah sih pacaran,  tapi ga pernah ngedate. Pernah sih, tapi 2x doank itupun masa-masa putih biru. Pernah sih, tapi paling lama sebulan dan paling cepat sepekan bubar 😝) . Naah, kalo si dia mantannya banyaaak, ada 7, hahahaha. Kelak saat sudah menikah aku introgasi dia dengan ketujuh mantannya itu, sampai detilll.

Jadi, ceritanya sebulan sebelum bertemu denganku, si dia baru putusan dengan pacarnya. Singkat cerita (lagi) si mantan terakhir ini ga ridho sama aku dan entah tau darimana dia dapat cerita dan akun Facebook ku, si mantan itu menghubungiku dan bla bla bla dia menghembuskan kata-kata panas. Aku ga bisa cerita lengkap di sini karena sungguh ga pantas diceritakan. Waktu itu aku masih antara percaya dan tidak. Jangan-jangan perempuan ini betul? Jangan-jangan si dia ini ga bener. Ah, sumvah aku tetiba males melanjutkan semuanya. Akhirnya aku serahkan dengan temanku untuk meladeninya. Big thanks amah Ririn yang sudah mau nolongin saat itu.

Dan pada akhirnya terungkap semua kebatilan mulutnya.

Jikalau saat itu yang datang mendekatiku adalah si dia mungkin aku bisa setengah percaya dengan omongan perempuan itu. Tapi yang datang ke rumahku bukan dia, tapi mamanya, mama mertua. Aku pikir tak akan berani beliau mengajukan anaknya kalo anaknya tidak sebaik yang dikira. Aku yakin, si dia orang baik, anak yang baik, dan akan jadi suami dan ayah yang baik untuk anak-anak kami.

Lewat tulisan ini aku mau menyampaikan rasa hormat buat mama mertua. Beliau yang bela-belain mencari calon untuk anak-anaknya. Kalo dalam adat Banjar Kalimantan Selatan, yang mamerku lakukan dikenal dengan nama "basasuluh" yang diambil dari kata "suluh" yang artinya lampu. Jadi, makna keseluruhannya, basasuluh adalah mencari informasi tentang sesorang yang tidak jelas asal-usulnya sehingga menjadi terang benderang.

Mamer melakukan basasuluh ini jauh sebelum beliau memutuskan untuk ke rumahku. Sebelumnya beliau sudah menanyakan ke guru SMA-ku (kebetulan abah mertua guru SMA tapi ga sempat ngajar diriku secara langsung). Beliau juga menanyakan ke guru TK-ku dulu yang sekarang sama-sama menjadi kepala TK.

Lewat tulisan ini juga aku mau mengucapkan terimakasih banyak kepada mamer yang sudah memilihku menjadi menantunya. Padahal di luar sana banyak sekali perempuan yang lebih baik, lebih cantik, lebih sabar, lebih pandai masak, lebih berkarya, lebih menghasilkan, lebih sholihah, dan lebih semuanya daripada aku. Makasih mama, sungguh terimakasih banyak😭.

Last but not least, aku juga mau ngucapin special thanks buat temen-temen yang sudah turut andil dalam perjalanan taaruf ini. Ririn, temen sekaligus mata-mataku, hahaha. Iya, dia ini ternyata tetangga sebelah rumah si dia. Darinya lah informasi banyak aku dapatkan. Rin, baru aku paham kenapa Alloh pertemukan kita di akhur tahun 2011. Long time no see. Kamu apa kabar? ? Semoga kabar baik segera sampai di telingaku ya, hehe. Winda, temen sekaligus iparku. Iya, dia ini si navigator yang aku ceritakan di atas. Kami teman seangkatan SMA, tapi tak pernah bertegur sapa karena memang beda jurusan. Sampai sekarang bahkan aku masih bingung kenapa dia memasukkan namaku di antara "sekumpulan nama-nama perempuan" yang diajukan ke mamanya. Ah, kenapa pula harus bingung, bukankah kalo sudah Alloh yang menggariskan semua akan dimudahkan?.  Ristya, my sohib my adventure, hihi. . . Ini sahabat mulai kecil yang udah hapal banget tabiatku. Makasih ya sudah berkenan menampung semua uneg-unegku dari yang berfaedah sampai yang unfaedah sama sekali *kisshug.

Silaturahim Pembuka Rezeki

Pernah dengar hadist ini? "Barangsiapa ingin diluaskanpintu rezekinya dan dipanjangkan usianya, hendaklah ia bersilaturahiim" HR. Bukhari

Mungkin aku dulu tidak menganggapnya silaturahim, hanya "main" saja.  Main ke rumah teman lama atau ke guru-guru zaman kecil. Aku suka sekali melakukannya. Kadang sama teman, kadang sama mama. Dan dari mereka-mereka yang sering aku kunjungi itulah jodohku seperti diarahkan.

Jadi, buat para single, bertebaranlah kalian di muka bumi, silaturahiim gaeess. Siapa tau jodohmu ada di sebalik pintu-pintu yang kau ketuk itu πŸ˜†.



Assalamu'alaikum....

Ada yang tau soda kue? Yang "markas"nya di dapur pasti tau donk. Bukan, bukan karena sering nongkrongin meja makan dan menghabiskan makanan di atasnya, tapi yang bener-bener menjadikan dapur sebagai markasnya, tempat eksperimen dari bakat terpendamnya πŸ˜‚, soda kue cukup sering didengar oleh kalian, bukan?

Soda kue atau baking soda atau bahasa kimianya natrium bikarbonat adalah salah satu bahan tambahan makanan yang berfungsi sebagai pengembang. Bentuknya kristal serbuk berwarna putih halus. Ketika bereaksi soda kue akan membentuk gelembung gas karbondioksida yang membuat kue atau roti mengembang.
Baking soda ga melulu tentang baking

Panganan jenis apa yang biasanya pake tambahan soda kue? Banyak, misalnya terang bulan, pancake, onde-onde ketawa, bolu, bahkan beberapa resep bakso juga menambahkan soda kue dengan tujuan apalagi kalo bukan untuk mengembangkan bakso supaya ukurannya lebih besar.

Tapi, ternyata soda kue ga melulu tentang kue loh. Bahkan saya sendiri selalu siap bahan yang biasa disingkat biknat ini di dapur tapi untuk tujuan selain bikin kue. Iya, saya jaraaang banget menambahkan soda kue ke makanan saya, kaya bolu atau bakso atau terang bulan. Soalnya suami kurang suka karena ada rasa-rasa "obat" nya di kue. Entah saya yang kebanyakan takarannya sehingga kerasa banget atau sudah kebiasaan lidah orang rumah makan bolu ga pake tambahan apa-apa, cuma mengandalkan kocokan maksimal telur dan gula berpadu tepung. Bisa ngembang? Bisa donk, intinya kocokan telur dan bolu mengembang apik ditambah tepung yang sesuai takaran, insya Alloh bolunya ga akan bantet.

Lah trus ga dipake buat bikin kue koq soda kue standby di dapur?

Iyaah, karena saya pakenya buat yang lain.  Buat apa aja? Hayuk lah simak di bawah ya;

1. Pengganti peeling wajah

Struktur baking soda yang berupa butiran halus membuat dia bisa dijadikan peeling wajah. Hanya saja karena sifat bahan ini yang sangat alkali (pH mencapai 9) tidak dianjurkan untuk keseringan dipakai. Biasanya saya pakai peeling baking soda dengan campuran VCO alias minyak kelapa murni. Selain sebagai pelumas agar butiran baking soda tidak mengiritasi kulit (FYI, bagi sebagian orang berkulit sensitif penggunaan baking soda sebaiknya dihindari), VCO bisa juga menutrisi kulit wajah membuatnya lembab, elastis, dan cerah. VCO juga sangat bagus untuk diminum loh. Mungkin saya akan bahas di tulisan lain.
VCO + baking soda

Baca juga: DIY peeling wajah


2. Membuat larutan alkali untuk detoksifikasi

Karena sifat baking soda yang alkali maka mencampurkannya dengan air berarti membuat larutan alkali. Makanan yang tidak sehat dan polusi udara membuat tubuh menjadi asam. Lingkungan asam membuat kuman penyakit cepat berkembang biak dan kabar buruknya sel-sel kanker yang notabene dimiliki oleh semua manusia akan menjadi lebih aktif dalam kondisi asam. Maka, tidak heran sekarang banyak orang mulai mengonsumsi minuman alkali baik dalam kemasan botol (biasanya dijual lewat marketing MLM) atau galon isi ulang seperti Kan-gen water. Siapa saja yang pernah membelinya pasti setuju kalau air alkali ini mahal, 7x lipat di atas air mineral biasa. Padahal dengan modal murah kita juga bisa membuat air alkali sendiri.

Mau buat di rumah? Cukup sediakan 1 gelas air dicampur dengan 1/2 sdt baking soda. Rasanya mirip-mirip air zam-zam, ya itulah air alkali. Reaksi detoks atau pengeluaran racunnya macam-macam, kalo saya sendiri rekasinya sakit perut melilit berakhir dengan diare (berarti ada masalah usus) dan gatal-gatal kulit (sepertinya darah kotor karena hampir 3 tahun terakhir ga mengalami siklus bulanan lagi). Oya, kalau ingin membuat air alkali usahakan pakai baking soda yang pure, 100%, tanpa ada zat anti kempalnya.

3. Memutihkan gigi

Saya sih belum nyoba tapi pernah jalan-jalan ke blognya Hatta Sani yang beauty blogger Bali (kayaknya dia keracunan Lintang juga suka bebikinan DIY skincare). Si dia menguji giginya sendiri dengan menggunakan baking soda + jeruk nipis. Dioles untuk kemudian didiamkan 5 menit, lumayan kalo liat hasilnya yah. Hanya saja ini ga bisa dipraktekkan terlalu sering karena akan mengikis email gigi dan akibatnya gigi menjadi lebih sensitif dengan makanan panas atau dingin.
Sumber: hatta-shani.com

4. Sebagai bahan eksperimen dengan anak

Wah, ini alasan utama saya selalu sedia baking soda. Bermain dengan baking soda selalu seru karena reaksinya yang ala-ala magic, hihihi. Seseruan main dengan baking soda sudah pernah saya tulis ya, di sana lengkap koq penjelasannya.

Baca juga: DIY mainan anak


5. Menghilangkan noda membandel pada peralatan dapur

Ini masalah lazim di dunia persilatan ya kan, Bu? Hahaha.... Walaupun udah ga pakai kompor minyak apalagi kayu bakar, noda di pantat panci tetap sebuah keniscayaan (((niscaya))). Apalagi kalau ibu-ibunya macam saya yang ngerjain kerjaan RT maunya cepat selesai, gosok panci yang sampai bersih tanpa noda bekas kebakar api rasa-rasanya hampir mustahil dengan anak yang kapan saja bisa mengeluarkan rengekannya kala dirinya merasa si ibu kelamaan di dapur.

Jadi, ada kalanya saya sisihkan waktu tersendiri untuk membersihkan tampilan "menggemaskan" dari peralatan dapur saya. Kalau dengan sabun dan sikat kawat tetap kurang bersih maka saya minta bantuan baking soda untuk menanganinya. Caranya? Tinggal ditabur pada bagian yang mau dieksekusi (basahi dulu permukaannya), diamkan beberapa lama (kalau bandel semalaman), gosok sebentar lalu bilas deh.


6.  Menghilangkan bau badan

Nah, ini dia khasiat baking soda yang juga sudah teruji dengan saya, menghilangkan ketek, eh baunya aja maksudnya πŸ˜‚. FYI, saya masuk tim anti deodorant macam Re**na dan sebangsanya. Ga tau ya risih aja, basah-basah gitu keteknya. Pernah dengar penelitian tentang pemicu kanker payudara? Konon katanya penyebabnya adalah paraben yang sering ada di deodorant yang masuk ke dalam sel-sel tubuh (karena payudara dekat jadi ke sana efeknya) dan mengaktifkan sel-sel kanker. Tapi katanya lagi itu belum bisa diterima mutlak karena masih belum kuat hasilnya. Apapun itu saya tetap ga suka pakai deodoran karena ya itu tadi, r-i-s-i-h.

Jadi, saya mencari alternatif lain. Pernah mencoba produk dari Nasa yang bentuknya bulat hijau keras, katanya terbuat dari mineral alam dan herbal. Bagus sih, jadi ga bau kitanya, bener-bener ga bau sama sekali keteknya. Tapi di saya jadi iritasi, huhu. Padahal bagus ih, ga basah dan ga lengket dan yang pasti ga bau.
Mas, mas, jangan tingi-tinggi donk 

Akhirnya saya pakai apa coba tebak?? Baking soda, temaan! Pakainya cukup ditaburkan di tangan sedikit aja, usapkan deh ke si keti. Dijamin hilang baunya 2 hari 2 malam, hihihi.

Lagi-lagi ini berkaitan dengan sifatnya yang alkali atau basa. Ketiak adalah bagian tubuh yang terlipat sehingga keringat sering terjebak di sana dan menjadikan lingkungan asam yang disukai bakteri penyebab bau badan. Jadi, dengan menempatkan baking soda di sana keti menjadi basa dan bakterinya minggat πŸ€—.

Itulah, 6 manfaat baking soda dalam keseharian kita. Satu bahan tapi faedahnya kemana-mana. Coba sendiri di rumah, yuk!




Assalamu'alaikum....

Teruntuk Muthia sayang, anak sulung mama. Goresan kata ini mewakili apa yang tidak akan bisa tersampaikan oleh lisan. Semoga kelak ketika kau dewasa surat ini bisa kau baca.

Sebelumnya mama ucapkan terimakasih sudah mau menjadi anak mama yang pertama. Terimakasih sudah menerima adik yang baru kala usiamu belum mapan secara emosi. Terimakasih sudah berusaha menjadi kaka yang baik di saat umurmu belum siap untuk berbagi.

Mama juga mau mengucapkan permintaan maaf yang sangat dalam kepada anak pertama mama. Maaf karena belum bisa menjadi ibu yang sabar dan bijak. Maaf atas kemarahan yang hampir setiap hari kau dengar dari bibir mama mu. Maaf atas semua kesalahan mama dalam mendidikmu, nak. Maaf....

Sungguh, dalam hati mama ingin menjadi ibu yang baik untukmu, ibu yang selalu memelukmu minimal 8x sehari, ibu yang selalu sabar melihat tingkahmu, ibu yang selalu mendengarkan setiap keluhmu, ibu yang yang setia mendengar celoteh dari mulut kecilmu. Sungguh, mama ingin menjadi sosok terbaik dalam hidupmu, nak.

Muthia, taukah kau jika dirimu adalah anak yang kuat dan pemberani? Saat hamilmu dulu, ayah mendapat rezeki hidup di daerah pelosok. Mati lampu 3x sehari sudah jadi makanan sehari-hari, akses jalan yang "luar biasa", satu-satunya jalan ke luar daerah menjadi sungai kala hujan melanda biasa kita hadapi. Melewati satu-satunya jalan harus tetap kami lewati dengan kemungkinan mobil terjebak lumpur, terbalik, atau yang paling baik dari semuanya adalah hanya tergoncang-goncang di dalam mobil ketika melewati jalan layaknya bubur itu. Kamu ada di dalam mobil itu, nak, masih kecil, seukuran kelingking mungkin. Tapi kamu kuat, sayang. Pun begitu ketika mama harus menemani ayah ke kota kabupaten, mencari stok obat dengan perjalanan 6 jam pulang pergi. Sakit punggung dan perut kontraksi waktu itu, tapi kamu kuat karena mama bahagia, bahagia karena melihat ayahmu bahagia.

Kamu juga pemberani, nak. Setiap malam di bulan pertama kita tinggal di sana, mama selalu menemani ayah yang dipanggil ke puskesmas karena ada ibu yang melahirkan, tengah malam, melewati hutan kecil di belakang puskesmas, berjalan di antara pohon-pohon tinggi dan semak belukar yang mungkin saja ada ular atau kalajengking yang bersembunyi. Atau ketika ayah visum ke desa sebelah hingga dini hari tidak datang, kamu pergi ke puskesmas untuk memastikan supaya mama tidak gelisah karena sinyal handphone tidak ada di sana. Kamu tidak takut sama sekali, sayang.

Pertumbuhan dan perkembanganmu sangat diperhatikan mulai dari dalam perut. Tidak terhitung berapa kali mama menangis tidak jelas juntrungannya karena terbaca artikel di internet tentang bayi dengan segala macam kondisi. Saking sangat perhatiannya mama justru cemas berlebih yang tidak jelas sebabnya. Hingga ayahmu menenangkan kalo bayi kami pasti baik-baik saja juga tak bisa meredam keresahan mama, sampai akhirnya kau lahir selamat dengan perjuangan yang aduhai sudah tak perlu diceritakan lagi karena setiap ibu pasti tau rasanya. Anakku yang kujaga dengan segala upaya akhirnya lahir dengan kondisi sempurna, bersih, dan ....putih para bidan itu bilang.

AlhamduliLlahilladzi bi ni'matihi tatimush sholihaat. Segala puji bagi Alloh dengan nikmat-Nya semua kebaikan menjadi sempurna.

Semoga Alloh menjadikanmu wanita yang kuat dan berani, wanita yang menjaga kehormatan diri dan agama di tengah fitnah akhir zaman, wanita yang cerdas lagi berakhlak baik. Semoga mama pun bisa memperbaiki diri, memantaskan diri untuk mendidikmu, ya 'Aina Muthia, Bidadari syurga bermata indah. Aamiin Allohumma Aamiin....

🌷🌷🌷

Surat ini sudah lama ingin saya tulis untuk nya, si anak pertama. Saya ingin dia tau walaupun mamanya ini cerewet sekali - hingga dia mulai bosan mendengarnya-, sungguh ada ungkapan yang membuncah yang ingin disampaikan.

Saya menulis ini bukan karena anak kedua dan seterusnya tidak spesial, bukan. Saya menulis ini justru karena terlalu banyak perhatian untuknya terbagi ketika anak kedua hadir.

Ya, menjadi anak pertama berarti harus menjadi kakak bagi adik-adiknya. Anak pertama berarti harus rela mamanya membagi perhatian untuk adik-adiknya. Anak pertama berarti juga "dipaksa" menjadi dewasa seberapa pun umurnya.




Jujur, menjadi ibu dari dua anak yang masih kecil membuat badan saya cepat lelah. Dan ini berdampak pada kestabilan emosi saya. Siapa yang jadi pelampiasan? Siapa lagi kalau bukan dia, si anak pertama yang malang. Ah, kalian tidak tau betapa setiap malam saya habiskan dengan mendaftar dosa-dosa saya setiap hari kepadanya, lalu menangis sejadi-jadinya karena menyesal, "kenapa tak ku tahan saja amarah ku tadi?". Benar kata orang, kalau anak dimarahi oleh orangtuanya yang merasa sakit hati bukan anaknya saja, orangtuanya justru lebih sakit lagi. Ada perasaan bergemuruh, sesak sesesak-sesaknya, berharap ada lorong waktu untuk kembali ke beberapa jam sebelumnya, memperbaiki situasi. Nyatanya tidak ada kan? Kita tidak akan pernah bisa memperbaiki yang telah berlalu.

Itulah saya dengan depresi post partum setahun lalu dan kini seiring dengan keinginan saya untuk sembuh dan keinginan kuat untuk membayar dosa-dosa saya, saya ingin belajar jadi ibu yang sabar dan bijak. Ibu yang selalu reframing sebelum berteriak, melihat dari sudut pandang anak sebelum bertindak. Ibu yang berusaha menepikan sebentar egonya untuk menyenangkan anak-anaknya. Ibu yang berusaha selalu ada untuk mereka, memeluk mereka minimal 8x sehari.

Karena akan selalu ada cinta mama untuk mu, si anak pertama.

Percayalah, tidak ada ibu yang ingin anaknya terluka. Jika ada sesuatu yang bisa menawarkan luka itu maka seorang ibu akan melakukannya demi apapun.

Setiap kali habis merasa tidak terkontrol hari itu, saya akan minta maaf padanya, meyakinkan bahwa mamanya akan selalu sayang sampai kapanpun. Lalu, saya berjanji esoknya akan membuatkan makanan kesukaannya atau mainan yang disenanginya. Serepot apapun. Dan saya ingin tahun depan dan tahun-tahun selanjutnya selalu membuatkan makanan kesukaannya, karena kata orang tidak ada makanan yang enak selain buatan ibu kan. Ada bumbu tak kasat mata yang ditambahkan.

Karena selalu ada cinta untuk anak pertama, dan juga anak mama yang lain.

Sungguh, ini perasaan yang baru saya rasakan ketika menjadi seorang ibu. Perasaan yang hanya dimiliki oleh seseorang yang rela berjuang antara hidup dan mati. Perasaan ingin memberikan semua yang terbaik yang bisa dilakukan. Buku bacaan terbaik, pakaian terbaik, sekolah terbaik, tontotan terbaik, kamar terbaik, apapun itu termasuk obat terbaik.

Di musim hujan seperti ini anak-anak rentan sekali sakit, terpapar virus dan kuman penyakit kala sistem imunitasnya belum sempurna. Suatu hari saya ajak Muthia ke pasar dan ga sengaja kena asap. Seingat saya hanya terpapar sebentar, tapi mungkin pas imunitasnya lagi drop akhirnya demamlah dia besoknya. Saya observasi perilakunya dan suhunya, kalo masih aktif saya biarkan tanpa obat karena demam bukan penyakit, hanya reaksi tubuh sebagai pertanda adanya serangan kuman atau virus. Tetap jaga cairan yang masuk agar tidak dehidrasi.



Lama-lama saya lihat dia mulai lesu dan maunya berbaring saja, saya cek suhunya lumayan tinggi. Di saat itu dia sudah ga nafsu makan, padahal perlu tambahan asupan nutrisi. Tapi memang kalo lagi sakit susah makan ya, Bu, orang dewasa saja suka ogah makan kalo sakit. Jadi, saya ga maksa makan anak waktu itu. Hanya saja saya bikinkan kaldu tulangan sapi sebagai harapan dia mau menyeruputnya. Ternyata benar, dia tertarik karena mencium aromanya dan akhirnya tidak hanya diseruput tapi juga dimakan dengan nasi. Ah, senangnya.

Saya pernah demam di atas 39°C waktu masitis atau bengkak payudara ketika anak kedua usia 3 bulan dan itu rasanya badan sudah kaya agar-agar, lemas, mau pingsan tapi ga bisa. Orang dewasa aja segitunya apalagi kalo anak-anak. Duh, kasian. . . . Karena saya takut banget suhunya tambah naik akhirnya saya kasih obat paracetamol untuk menurunkan panasnya. Belum sepenuhnya pulih karena setelah itu masih ada 2x naik suhu lagi. Setelah 3x diberikan obat baru benar-benar sembuh.

Obat paracetamol memang obat wajib di rumah. Bahkan tanpa resep dokter obat ini boleh diberikan karena benar-benar menjadi obat P3K saat sakit, tentunya dengan observasi terlebuh dahulu. Apalagi paracetamol tergolong obat aman dan lebih sedikit resikonya dibanding obat lain, sebut saja ibuprofen. Jadi, sedia obat paracetamol di rumah ya, Bu, ini penting banget, karena ada beberapa anak yang ga kuat demam di atas 38°C dan akhirnya menyerang ke otak. Duh, jadi teringat tetangga sendiri.

Jadi, kalo anak demam biasanya yang saya lakukan adalah:

1. Lihat perilaku anak, jika masih aktif berikan minum sebanyak-banyaknya. Jika dia pipis lebih banyak akan lebih bagus, karena lewat urine panas bisa dikeluarkan

2. Jika anak berubah menjadi pasif dan lemas, ukur suhu tubuhnya sambil tetap jaga asupan cairan. Demam berpotensi tinggi menyebabkan dehidrasi akut dan ini bahkan bisa lebih berbahaya daripada demam itu sendiri karena bisa berujung kematian

3. Kompres dengan air hangat tanpa menempelkan kain kompres terlalu lama. Kain kompres yang melekat lama di kulit akan menghambat panas yang akan keluar. Mengompres dengan air dingin hanya akan menyebabkan tubuh mengeluarkan reaksi "menambah panas"

4. Jika anak tidak mau makan jangan dipaksa. Makanan tidak hanya berbentuk padat, apalagi dalam keadaan sakit sistem pencernaan tidak seaktif waktu sehat karena energi tubuh digunakan untuk melawan kuman penyakit dan bukan untuk menggerakkan sistem pencernaan. Berikan makanan dalam bentuk cairan seperti kaldu tulangan yang tinggi nutrisi, bisa juga ditambahkan sayur di dalamnya.

5. Berikan obat penurun panas jika suhunya semakin mengkhawatirkan. Ada dokter yang mengatakan ketika suhu 38.5°C baru diberikan obat. Tapi ada juga dokter yang menyilakan memberikan obat ketika suhu 37.5°C karena masing-masing anak berbeda ketahanan tubuhnya dalam menghadapi demam.



Sudah punya obat penurun panas andalan, Ma? Kalau belum sini saya kasih rekomendasi. Tempra paracetamol ini jadi andalan dan diusahakan selalu ada di kotak P3K. Karena apa? Karena Tempra aman di lambung, tidak perlu dikocok karena larut 100%, dan juga dosisnya tepat tentunya jika kita memperhatikan dengan baik takarannya.

Mungkin ada yang tau kalau selain paracetamol adalagi yang bisa menurunkan panas. Ya, ibuprofen. Paracetamol dan ibuprofen mempunyai sifat hampir sama, sama-sama antipireutik alias menekan panas. Bedanya adalah jika ibuprofen termasuk obat NSAD (nosteroidal anti-inflammatory drugs) yang artinya memiliki sifat anti radang sehingga memiliki resiko yang lebih besar, sedangkan paracetamol tidak sehingga obat ini lebih ramah digunakan karena resikonya minim.

Sekarang Muthia sudah sehat kembali
Mempunyai anak adalah anugerah tak ternilai dari Sang Pencipta. Sudah seharusnya kita rawat dan kita jaga. Orangtua memang bisa alpa dan khilaf sama seperti manusia-manusia lainnya, tapi anak kitapun juga manusia yang punya hati yang lembut sama seperti anak-anak kecil lainnya. Berikan yang terbaik untuk mereka kelak mereka akan memberikan yang terbaik pula di masa tua kita. Niatkan dengan ikhlas semoga Tuhan membimbing kita menjadi orangtua terbaik untuk mereka. Karena selalu ada cinta




Note: Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Tempra
Assalamu'alaikum....

Ga kerasa sudah di penghujung tahun 2017 ya, berarti siap-siap katakan "welcome to the new year, 2018" *yeaaayy πŸŽ‰. Padahal rasanya baru kemaren ngeliat orang bakar-bakar ayam dan jagung, denger terompet bersahutan, dan memandang nyala kembang api yang semarak di langit malam pergantian tahun 2016-2017 dan sekarang tau-tau sudah harus say good bye 2017. Tau-tau?

Hmm, ada yang sama? Tetiba merasa waktu begitu cepat berlalu, tau-tau sudah masuk di angka baru? Ah, manusia selalu seperti itu. Merasa waktu berlalu begitu cepat dan mendadak lupa sudah melakukan apa saja selama rentang waktu itu.

Berganti tahun berarti bertambah pula usia kita dan berarti pula berkurang jatah umur hidup di dunia. Semua akan melesat begitu cepat jika kita tidak (mau) merenung sebentar. Ya, merenung, mari kita merenung, berfikir lebih dalam dengan introspeksi diri. Jangan sampai kesempatan yang diberikan ini kita sia-siakan dengan melakukan hal-hal yang tidak berfaedah dan menyesal di kemudian hari "kenapa aku dulu tidak mengerjakan ini", "seharusnya aku dulu lebih giat lagi melakukannya", dan kalimat penyesalan semacamnya πŸ’”.

Bu, penyesalan emang datangnya di belakang, kalo di depan namanya pendaftaran.

Whahaha, betul juga.

Baiklaahh kalo begitu, (sebelum menuai penyesalan) mari kita mendaftar  Mendaftar? Yap, mendaftar apa-apa pencapaian yang sudah kita raih di tahun ini, mendaftar kesalahan yang kita lakukan selama ini. Bahasa nowdays nya, review, setelah itu mari kita buat resolusi baru di tahun 2018. Do review and make resolutions. Now, let's make our dreams come true πŸ’ͺ.

Membuat Harapan Besar Manfaat dengan Resolusi Baru


Resolusi mungkin bagi sebagian orang terdengar asing atau bahkan rancu. Wajar saja karena resolusi yang kita maksud di sini tidak terdapat pada Kamus Besar Bahasa Indonesia. KBBI hanya mencatatkan makna resolusi sebagai; 

Sumber KBBI Daring

Sebenarnya resolusi yang kita maksud di sini adalah serapan dari bahasa asing, yaitu resolution yang berarti ketetapan hati, kebulatan tekad, pendirian teguh. Jadi, bisa kita simpulkan bahwa

resolusi adalah pencapaian yang dibuat dengan ketetapan hati, kebulatan tekad, serta berkomitmen untuk melakukannya dengan mengharapkan peningkatan kualitas diri

Sudahkah terbersit mimpi untuk tahun depan? Bagus! Tapi masih susah menuangkannya dalam bentuk real resolution? Yuk, sama-sama kita belajar membuatnya dengan tips berikut;
  • Tuliskan
Sebagai makhluk yang dianugerahi sifat pelupa ada baiknya jika kita menuliskannya. Menulis akan mengingatkan kita di kemudian hari akan harapan yang akan diraih. Kalo saya biasanya beli buku agenda dan menuliskannya di situ untuk kemudian membukanya kembali beberapa kali untuk mengecek progress resolusi yang sudah dibuat
  • Mind map
Mind map atau bahasa lainnya peta pikiran adalah cara selanjutnya untuk menggambarkan tujuan kita. Jika menuliskan resolusi adalah otak kiri maka kita imbangi dengan otak kanan, menggambar resolusi. Menurut penelitian ahli neuroscience, paparan gambar, warna, foto akan terekam dalam alam bawah sadar dan membuat kita lebih bersemangat untuk meraihnya.
  • be SMART 
Ini adalah singkatan dari Specific, Meaningful, Achievable, Relevant, Timely atau bahasa sederhananya adalah Spesifik, Bermakna, Dapat dijangkau, Relevan, dan dibatasi waktu. Patokan ini akan membuat tujuan kita lebih terukur karena kita meletakkan detail dan menetapkan batasan waktu. Ini penting supaya kita ga ngambang dan berakhir gamang menuju tercapainya resolusi kita.

And These are My Resolutions

Sebenarnya saya dulu biasa bikin resolusi awal tahun, misal; target waktu menyelesaikan kuliah, target nilai dan IPK, target organisasi, sampai target menikah kapan *uhuk. Sayangnya, semenjak jadi istri dan bertitel ibu saya nyaris ga pernah bikin lagi, paling banter bikin target harian dan itupun ga rutin. Padahal lo ya padahal, bikin goals itu membuat hidup lebih terencana matang, ga ada waktu yang sia-sia, dan kitanya jadi lebih semangat lagi menghadapi hari esok karena sudah tau apa yang akan dikerjakan. Padahal lo ya padahal lagi, jadi istri dan ibu justru tugas rumit, lebih rumit dibandingkan menyelesaikan rumus turunan teori-teori kuantum yang njelimetnya udah kaya benang kusut. Because this is about hereafter life 😒

Jadi....

Saya mau (pake bangeT, T-nya 7x) membuat kembali resolusi hidup ala saya untuk tahun 2018 and here we go.... 

Bismillah, 
these are my goals, my resolutions 

1. Meningkatkan ibadah
    Ga dipungkiri menjadi seorang ibu membuat kita merasa waktu sehari semalam 24 jam terasa kurang. Imbasnya kita sering molor dalam hal ibadah. Padahal Sang Pencipta sudah menciptakan kita sedemikan sempurna, gratis! Belum lagi anak-anak yang lucu, rezeki yang diluaskan, suami yang setia, baik, pintar, rajin nabung dan tidak sombong *uhuk2. Rasanya koq saya jadi kufur nikmat kalo tidak membarenginya dengan peningkatan ibadah.

Gimana supaya tetap semangat? Buat lingkungan yang religius juga. Pengajian? Datang ke pengajian mana sempet? Iya sih, Udah kerjaan rumah tangga ga ada habis-habisnya, ditambah ngurus anak yang masih balita di situ rasanya saya pengen jadi makhluk yang bisa membelah diri layaknya amoeba. Nah ini yang sering kita alami kan, Mak. Udah capek ngurus rumah dan anak, ruhiyah pula terbengkalai. Klop lah ini mengikis habis kewarasan kita.

Bersyukur hidup di zaman digital sekarang, di mana media sosial sering membantu kita, termasuk dalam hal ini. Kalo kita mau kita bisa mengupdate ilmu agama lewat youtube, carilah ustadz yang mumpuni dan wawasannya luas. Bagi yang sudah mengantongi namanya, tinggal merutinkan saja mendengarkan tausiah dari youtube.

Lewat youtube?

Why not!

Selain "ibadah pribadi" juga jangan lupakan ibadah sosial seperti sedekah dan silaturahim. Rezeki yang diberikan sebenarnya ada hak orang lain di sana. Belajar dari pengalaman sebelumnya, keluarkan harta sebelum Alloh yang mengeluarkan harta kita dengan cara-Nya 😒.

Ini pe-er yang pertama, memperbaiki hubungan dengan Sang Pencipta, semoga Dia memudahkan urusan-urusan yang lain.
God firs


2. Membuat DIY mainan anak sembari mengorganisir jadwal 'homeschooling'
    DIY (Do It Yourself) alias bikin sendiri mainan masih jarang saya lakukan. Selama ini kalau bebikinan mainan masih ala kadarnya. Untuk itu, saya ingin menarget tahun depan akan membuat jadwal belajar ala homeschooling, termasuk di dalamnya membuat mainan anak handmade. Bukan homeschooling pure sih, hanya sebagai bentuk persiapan anak sebelum masuk sekolah tahun depan, mempersiapkan mental anak sebelum sekolah, seperti menyiapkan sisi kemandirian, kesabaran, keberanian, pemahaman, bahasa, pre-writing, pre-reading, dll, itu semua bisa dilatih lewat mainan.

Selain itu, manfaat lain dari membuat sendiri mainan anak, seperti; merangsang kreativitas anak, memanfaatkan barang-barang bekas, meningkatkan bonding, memicu rasa ingin tahunya, modalnya murah (cuma tepung, baking soda, cuka, atau kardus, kertas kado, gunting, dan semacamnya), melatih pre-writing alias kekuatan otot jari sebagai persiapan menulisnya nanti dan seabrek manfaat lainnya.

Sumber inspirasinya bisa datang dari mana saja. Dari buku bermain, postingan instagram orang lain, atau bahkan website homeschooling berbasis montessori, dll. Saya mau di tahun depan jadwal bermain ini semakin terorganisir dengan baik dan rapi karena sekarang saya sudah punya 2 murid di rumahπŸ˜….

Mainan ala ala. Semoga bisa lebih rajin lagi ke depannya


3. Menambah buku
    Buku apa? Buku apa aja yang menambah wawasan. Buku parenting, buku kesehatan, buku novel, dan termasuk buku anak pastinya. Target saya pribadi adalah menelan 3 buku dalam sebulan. Terlalu sedikit? Iya sih tapi dengan segala kerepotan saya cukuplah dengan jumlah segini.

Oya, di rumah kami sekarang sedang ada gerakan mengurangi tontonan televisi. Terhitung sejak Oktober tadi kami berhasil mengurangi 70% waktu menonton dan berganti dengan waktu membaca, mendongeng, bercerita, bersosialisasi, dan tak lupa unyel-unyelan di kasur, hahaha.

pixabay.com

Mengutip kata Ayah Edy, pakar parenting, membuat anak suka membaca lebih penting daripada mengajarinya membaca karena banyak anak yang bisa membaca tapi tidak suka membaca. Kan jleb banget kan. Jadi, fokus kami adalah membiasakan anak-anak terpapar buku untuk memancing minat bacanya, urusan bisa membaca akan lebih mudah kemudian karena anak sudah terbiasa dengan bacaan dan tulisan. Yah semoga saja, karena Muthia di usianya sekarang 3.5 tahun mulai tertarik menulis dan membaca walau tidak sama sekali kami ajari.

4. Persisten blogging
    Halo kenalkan saya beginner blogger yang masih awam banget di dunia blogging, baru 9 bulan punya blog, mood nulis bisa naik turun bak roller coaster bahkan sempat hiatus 2 bulanπŸ˜„, padahal ngakunya sih menulis sebagai terapi. Iya, menulis bagi saya adalah self-healing dari depresi post partum yang saya alami persis satu tahun silam, tapi karena ada satu dan lain hal sejenak saya melepas rutinitas ini.

Jadi, saya merasa perlu membuat komitmen kuat untuk mengembangkan kembali skill saya ini, persisten. Persisten ala saya tentu berbeda dengan persisten ala blogger-blogger handal. Persistensi saya bukan dengan menarget one day one post. Persistensi saya adalah persistensi ala emak-emak rempong bin repot dengan dua bocah cilik tanpa ART tanpa nanny. Cukup dengan  membuat jadwal menulis bulanan untuk setiap kategori di blog saya, misal; setiap bulan harus post tentang resep masakan 2x, parenting 2x, beauty talk 1x, health talk 1x, dan selebihnya tentang lifestyle alias suka-suka, termasuk curcol di dalamnya *eh.

5. Menjadi (Early) Morning Mom
    Ya ya ya, jadi ibu berarti menjadi sesosok makhluk yang harus bangun paling pagi dan tidur paling telat, katanya (Untuk bagian "tidur paling telat" kurang setuju sih, ehee, tapi untuk bagian "harus" bangun paling pagi kayanya emang kudu harus). Berhubung saya masih menyusui dan suka kebangun malam karena si bayi minta jatah ASI, bangun early morning  kadang susah karena masih mengantuk. Padahal sekali waktu bisa bangun jam 2 atau 3 pagi wuih...rasanya banyak banget yang bisa saya kerjakan.

Bangun sebelum subuh membuat badan lebih fresh karena udara sejuk, pikiran juga masih enteng, dan lebih penting lagi waktu kita jadi lebih banyak, bisa  bersih-bersih rumah, prepare sarapan, cuci baju, bahkan bisa puas me time sendiri, luluran, nulis, blog walking, dll. Asiik ya.... Untuk itu saya menarget setelah menunaikan kewajiban meng-ASI-hi di tahun depan saya akan menjadi early morning mom alias emak-emak yang bangun sebelum subuh.

6. Trip
    Dua puluh delapan tahun hidup di dunia belum pernah naik pesawat sekalipun dan akhirnya tahun depan suami mengajak jalan-jalan ke luar pulau  *yeaaay. Serius ih belum pernah? Dua rius malah, hahaha. Sebenarnya bagi saya yang ga terlalu suka travelling ini ga masalah sih, hanya saja saya merasa anak-anak jadi kurang interaksi sosial dan alamnya. Jadilah saya mengiyakan ajakan suami.

Daerah yang ingin kami datangi maunya sih yang hawanya sejuk dan banyak children friendly zone macam taman edukasi dan kebun binatang, juga yang ada wahana main saljunya karena anak sulung saya sudah kadung pengen banget megang salju, hihi. Doain ya first time trip ini kabul soalnya menurut temen saya sudah masuk kategori "emak-emak kurang piknik".
Saya tim ijo-biru. Kalo kamu?
Manfaat nge-trip ternyata bagus banget apalagi untuk masa pertumbuhan anak-anak yang memang struktur otaknya sedang pesat-pesatnya membangun pola sinaps.


7. Bayar hutang
   Nah, ini aib sebenarnya, kenapa jadi ditulis sih, hahaha. Ga apa-apa deh, biar ingat dan sekalian mengingatkan kepada pembaca yang membaca tulisan ini dan mengenal penulisnya dan juga punya piutang yang tercatat atas nama saya, kali aja saya lupa, entah uang, buku, atau barang  tolong hubungi saya via direct massage instagram atau whattsap, apa aja, asal jangan di kolom komentar, plis ya plis πŸ˜„.

8. Merutinkan senam atau olahraga 
    Olahraga? Emang penting banget ya? Kalo dibilang penting banget sih ga, tapi kalo penting hmm, iya olahraga itu penting. Bukannya sudah capek dengan kegiatan IRT dari bangun tidur sampai mau tidur lagi? Beda, Bu. Jadi, ga sama antara olahraga dan kegiatan IRT walaupun sama-sama capek  dan berkeringat ujung-ujungnya. Kegiatan IRT levelnya hanya sampai aktivitas fisik ringan sampai moderat, sedangkan untuk mendapatkan kesehatan badan secara menyeluruh (terutama sistem cardiac) diperlukan aktivitas berat, yaitu olahraga. Dengan olahraga pula sirkulasi darah dan oksigen ke seluruh tubuh termasuk otak akan berjalan dengan baik. Saya ingat banget zaman SMP dulu tiap hari Jumat semua siswa wajib senam pagi dan itu jadi jam pelajaran pertama hari itu. Pas SMA ga ada sama sekali dan diganti Jumat bersih alias bersih-bersih rumput sekitar kelas. Zaman kuliah? Wah, jangan ditanya. Zaman ini lebih statis lagi gerakan tubuh saya. Perbedaan itu kerasa banget di pribadi saya, yang tadinya enerjik jadi pendiam, prestasi yang tadinya kenceng jadi lumayan kendur. Apa karena saya kurang gerak, kurang olahraga? Bisa jadi. Asupan oksigen ke otak yang tadinya lancar mungkin jadi tersendat karena kestatisan badan saya.

Oleh karena itu saya berniat untuk memulai lagi olahraga di kehidupan saya yang baru nanti. Dan senam adalah pilihan paling ideal untuk emak-emak rempong ini yang selalu dibuntuti dua bocah kemana pergi. Ya, senam di rumah. Download di internet, setel di tv, dan selamat berkeringat maak!
Bikin resolusi 2018, yuk! 


Resolusi Sukses = Niat Kuat + Badan Sehat


Tiga tahun belakangan saya mengidap osteoarthritis (OA) atau radang sendi. Mau duduk dari posisi berdiri itu sakitnya minta ampun, bangkit dari posisi duduk di lantai itu nyerinya luar biasa, badan baru bangun tidur tapi rasanya kaya badan yang baru dipakai kerja seharian, remuk redam. Itu sebagian gambaran kondisi pengidap OA. Saya yang baru berusia 20-an tetiba merasa lebih tua dari orang tua saya. Jangankan mau bikin resolusi atau target harian, menjalankan yang di depan mata aja sungguh perjuangan yang berat. Tapi itu dulu sebelum saya mengatur pola makan. Bersyukur  sekali sekarang perlahan OA saya berkurang -walau terkadang masih saja kumat-.


Kondisi badan mempengaruhi produktivitas, itulah yang saya yakini. Betapa lebih produktifnya saya sekarang dibanding beberapa tahun lalu kala masih terkungkung dalam OA. Maka, saya ingin sekali menjaganya agar tidak terpuruk seperti beberapa tahun lalu. Menumbuhkan kebiasaan baik, itu inti dari resolusi 2018 saya. Kebiasaan baik untuk ruhiyah saya (ibadah), otak saya (membaca menulis), dan badan saya (senam). Karena jantungnya keluarga adalah si ibu, ibu bahagia maka suami dan anak-anak akan tertular bahagia, ibunya sehat jiwa raga maka suami dan anak-anak akan terjaga, dan labegitu pua sebaliknya.

Khusus untuk menjaga kesehatan badan, selain olahraga nampaknya saya perlu mengonsumsi suplemen yang berkaitan dengan medical record saya. Setelah saya membaca beberapa referensi saya menjatuhkan pada Theragran-M.

Theragran-M adalah suplemen yang berisi multivitamin dan mineral essensial, sangat cocok untuk membantu proses pemulihan saya. Suplemen ini berupa tablet salut gula, jadi kalo diminum serasa makan permen, hihi. Cocok kan buat yang lagi sakit karena biasanya lidah ikutan "sakit" juga.

Vitamin B kompleks yang terkandung di dalamnya cukup untuk membantu menjaga imunitas tubuh dan menjaga agar badan tidak terlalu lelah. Emak-emak seterong wajib tau manfaat vitamin ini ya. Vitamin C untuk kekebalan tubuh apalagi di musim hujan sekarang apalagi cuaca sering ga bisa ditebak, kadang siang panas banget eh tetiba aja mendung hitam datang dan langsung hujan deras berangin kencang. Jadi jaga imunitas juga ya, karena konon katanya emak ga boleh sakit, kalo sakit pun ga boleh kelamaan, kudu seterong mah pokok na yak *kisshug. Vitamin D yang terkenal dengan vitamin tulang bersimbiosis mutualisme dengan kalsium. Apalagi menurut penelitian perempuan lebih rentan kehilangan vitamin D dan kalsium karena pendarahan setiap bulan, yang artinya badan perempuan lebih mudah terkena penyakit osteoporosis alias tulang rapuh. Mineral Magnesium yang fungsinya menanggulangi depresi dan kekurangan magnesium otomatis mudah terkena depresi. Dan mineral-mineral penting lainnya seperti Zinc, Zat Besi, Mangan, yang bertugas sebagai antioksidan tambahan yang akan membantu antioksidan alami tubuh. Dengan berbagai kandungan baik di dalam Theragran-M (yang diimbangi pula dengan pola makan serta pola hidup yang sehat) akan bersinergis dengan niat yang kuat, semoga resolusi 2018 yang kita buat akan semakin mudah diraih.

Kata orang, gagal merencanakan = merencanakan kegagalan, berarti sukses merencanakan = merencanakan kesuksesan. Jadi, ayo kita buat resolusi 2018 dengan sebaik mungkin. Bukankah Tuhan sesuai persepsi hamba-Nya?
Resolusi sukses = niat kuat + badan sehat

Jika beberapa tahun lalu terlewati dengan kondisi kurang baik, banyak review yang harus dibenahi di sana-sini, maka untuk "2017 "saya ucapkan terimakasih banyak karena telah menandai kebangkitan saya. Dan untuk "2018" dan selanjutnya semoga bisa menjadi manusia yang jauh lebih baik lagi dengan segala review dan resolusi yang sudah disusun. Aamiin!


2018 is coming, it's my turn!

 No, it's our turn! πŸ˜‰








Referensi tulisan:
1. https://theragran.co.id
2. https://kbbi.kemendikbud.go.id
3. http://pengusahamuslim.com/3257-tips-membuat-resolusi-1733.html

Referensi gambar:
1. http://pixabay.com
2. dokumen pribadi

Note: Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Theragran-M