Surat Cinta untuk Anak Pertama

Assalamu'alaikum....

Teruntuk Muthia sayang, anak sulung mama. Goresan kata ini mewakili apa yang tidak akan bisa tersampaikan oleh lisan. Semoga kelak ketika kau dewasa surat ini bisa kau baca.

Sebelumnya mama ucapkan terimakasih sudah mau menjadi anak mama yang pertama. Terimakasih sudah menerima adik yang baru kala usiamu belum mapan secara emosi. Terimakasih sudah berusaha menjadi kaka yang baik di saat umurmu belum siap untuk berbagi.

Mama juga mau mengucapkan permintaan maaf yang sangat dalam kepada anak pertama mama. Maaf karena belum bisa menjadi ibu yang sabar dan bijak. Maaf atas kemarahan yang hampir setiap hari kau dengar dari bibir mama mu. Maaf atas semua kesalahan mama dalam mendidikmu, nak. Maaf....

Sungguh, dalam hati mama ingin menjadi ibu yang baik untukmu, ibu yang selalu memelukmu minimal 8x sehari, ibu yang selalu sabar melihat tingkahmu, ibu yang selalu mendengarkan setiap keluhmu, ibu yang yang setia mendengar celoteh dari mulut kecilmu. Sungguh, mama ingin menjadi sosok terbaik dalam hidupmu, nak.

Muthia, taukah kau jika dirimu adalah anak yang kuat dan pemberani? Saat hamilmu dulu, ayah mendapat rezeki hidup di daerah pelosok. Mati lampu 3x sehari sudah jadi makanan sehari-hari, akses jalan yang "luar biasa", satu-satunya jalan ke luar daerah menjadi sungai kala hujan melanda biasa kita hadapi. Melewati satu-satunya jalan harus tetap kami lewati dengan kemungkinan mobil terjebak lumpur, terbalik, atau yang paling baik dari semuanya adalah hanya tergoncang-goncang di dalam mobil ketika melewati jalan layaknya bubur itu. Kamu ada di dalam mobil itu, nak, masih kecil, seukuran kelingking mungkin. Tapi kamu kuat, sayang. Pun begitu ketika mama harus menemani ayah ke kota kabupaten, mencari stok obat dengan perjalanan 6 jam pulang pergi. Sakit punggung dan perut kontraksi waktu itu, tapi kamu kuat karena mama bahagia, bahagia karena melihat ayahmu bahagia.

Kamu juga pemberani, nak. Setiap malam di bulan pertama kita tinggal di sana, mama selalu menemani ayah yang dipanggil ke puskesmas karena ada ibu yang melahirkan, tengah malam, melewati hutan kecil di belakang puskesmas, berjalan di antara pohon-pohon tinggi dan semak belukar yang mungkin saja ada ular atau kalajengking yang bersembunyi. Atau ketika ayah visum ke desa sebelah hingga dini hari tidak datang, kamu pergi ke puskesmas untuk memastikan supaya mama tidak gelisah karena sinyal handphone tidak ada di sana. Kamu tidak takut sama sekali, sayang.

Pertumbuhan dan perkembanganmu sangat diperhatikan mulai dari dalam perut. Tidak terhitung berapa kali mama menangis tidak jelas juntrungannya karena terbaca artikel di internet tentang bayi dengan segala macam kondisi. Saking sangat perhatiannya mama justru cemas berlebih yang tidak jelas sebabnya. Hingga ayahmu menenangkan kalo bayi kami pasti baik-baik saja juga tak bisa meredam keresahan mama, sampai akhirnya kau lahir selamat dengan perjuangan yang aduhai sudah tak perlu diceritakan lagi karena setiap ibu pasti tau rasanya. Anakku yang kujaga dengan segala upaya akhirnya lahir dengan kondisi sempurna, bersih, dan ....putih para bidan itu bilang.

AlhamduliLlahilladzi bi ni'matihi tatimush sholihaat. Segala puji bagi Alloh dengan nikmat-Nya semua kebaikan menjadi sempurna.

Semoga Alloh menjadikanmu wanita yang kuat dan berani, wanita yang menjaga kehormatan diri dan agama di tengah fitnah akhir zaman, wanita yang cerdas lagi berakhlak baik. Semoga mama pun bisa memperbaiki diri, memantaskan diri untuk mendidikmu, ya 'Aina Muthia, Bidadari syurga bermata indah. Aamiin Allohumma Aamiin....

🌷🌷🌷

Surat ini sudah lama ingin saya tulis untuk nya, si anak pertama. Saya ingin dia tau walaupun mamanya ini cerewet sekali - hingga dia mulai bosan mendengarnya-, sungguh ada ungkapan yang membuncah yang ingin disampaikan.

Saya menulis ini bukan karena anak kedua dan seterusnya tidak spesial, bukan. Saya menulis ini justru karena terlalu banyak perhatian untuknya terbagi ketika anak kedua hadir.

Ya, menjadi anak pertama berarti harus menjadi kakak bagi adik-adiknya. Anak pertama berarti harus rela mamanya membagi perhatian untuk adik-adiknya. Anak pertama berarti juga "dipaksa" menjadi dewasa seberapa pun umurnya.




Jujur, menjadi ibu dari dua anak yang masih kecil membuat badan saya cepat lelah. Dan ini berdampak pada kestabilan emosi saya. Siapa yang jadi pelampiasan? Siapa lagi kalau bukan dia, si anak pertama yang malang. Ah, kalian tidak tau betapa setiap malam saya habiskan dengan mendaftar dosa-dosa saya setiap hari kepadanya, lalu menangis sejadi-jadinya karena menyesal, "kenapa tak ku tahan saja amarah ku tadi?". Benar kata orang, kalau anak dimarahi oleh orangtuanya yang merasa sakit hati bukan anaknya saja, orangtuanya justru lebih sakit lagi. Ada perasaan bergemuruh, sesak sesesak-sesaknya, berharap ada lorong waktu untuk kembali ke beberapa jam sebelumnya, memperbaiki situasi. Nyatanya tidak ada kan? Kita tidak akan pernah bisa memperbaiki yang telah berlalu.

Itulah saya dengan depresi post partum setahun lalu dan kini seiring dengan keinginan saya untuk sembuh dan keinginan kuat untuk membayar dosa-dosa saya, saya ingin belajar jadi ibu yang sabar dan bijak. Ibu yang selalu reframing sebelum berteriak, melihat dari sudut pandang anak sebelum bertindak. Ibu yang berusaha menepikan sebentar egonya untuk menyenangkan anak-anaknya. Ibu yang berusaha selalu ada untuk mereka, memeluk mereka minimal 8x sehari.

Karena akan selalu ada cinta mama untuk mu, si anak pertama.

Percayalah, tidak ada ibu yang ingin anaknya terluka. Jika ada sesuatu yang bisa menawarkan luka itu maka seorang ibu akan melakukannya demi apapun.

Setiap kali habis merasa tidak terkontrol hari itu, saya akan minta maaf padanya, meyakinkan bahwa mamanya akan selalu sayang sampai kapanpun. Lalu, saya berjanji esoknya akan membuatkan makanan kesukaannya atau mainan yang disenanginya. Serepot apapun. Dan saya ingin tahun depan dan tahun-tahun selanjutnya selalu membuatkan makanan kesukaannya, karena kata orang tidak ada makanan yang enak selain buatan ibu kan. Ada bumbu tak kasat mata yang ditambahkan.

Karena selalu ada cinta untuk anak pertama, dan juga anak mama yang lain.

Sungguh, ini perasaan yang baru saya rasakan ketika menjadi seorang ibu. Perasaan yang hanya dimiliki oleh seseorang yang rela berjuang antara hidup dan mati. Perasaan ingin memberikan semua yang terbaik yang bisa dilakukan. Buku bacaan terbaik, pakaian terbaik, sekolah terbaik, tontotan terbaik, kamar terbaik, apapun itu termasuk obat terbaik.

Di musim hujan seperti ini anak-anak rentan sekali sakit, terpapar virus dan kuman penyakit kala sistem imunitasnya belum sempurna. Suatu hari saya ajak Muthia ke pasar dan ga sengaja kena asap. Seingat saya hanya terpapar sebentar, tapi mungkin pas imunitasnya lagi drop akhirnya demamlah dia besoknya. Saya observasi perilakunya dan suhunya, kalo masih aktif saya biarkan tanpa obat karena demam bukan penyakit, hanya reaksi tubuh sebagai pertanda adanya serangan kuman atau virus. Tetap jaga cairan yang masuk agar tidak dehidrasi.



Lama-lama saya lihat dia mulai lesu dan maunya berbaring saja, saya cek suhunya lumayan tinggi. Di saat itu dia sudah ga nafsu makan, padahal perlu tambahan asupan nutrisi. Tapi memang kalo lagi sakit susah makan ya, Bu, orang dewasa saja suka ogah makan kalo sakit. Jadi, saya ga maksa makan anak waktu itu. Hanya saja saya bikinkan kaldu tulangan sapi sebagai harapan dia mau menyeruputnya. Ternyata benar, dia tertarik karena mencium aromanya dan akhirnya tidak hanya diseruput tapi juga dimakan dengan nasi. Ah, senangnya.

Saya pernah demam di atas 39°C waktu masitis atau bengkak payudara ketika anak kedua usia 3 bulan dan itu rasanya badan sudah kaya agar-agar, lemas, mau pingsan tapi ga bisa. Orang dewasa aja segitunya apalagi kalo anak-anak. Duh, kasian. . . . Karena saya takut banget suhunya tambah naik akhirnya saya kasih obat paracetamol untuk menurunkan panasnya. Belum sepenuhnya pulih karena setelah itu masih ada 2x naik suhu lagi. Setelah 3x diberikan obat baru benar-benar sembuh.

Obat paracetamol memang obat wajib di rumah. Bahkan tanpa resep dokter obat ini boleh diberikan karena benar-benar menjadi obat P3K saat sakit, tentunya dengan observasi terlebuh dahulu. Apalagi paracetamol tergolong obat aman dan lebih sedikit resikonya dibanding obat lain, sebut saja ibuprofen. Jadi, sedia obat paracetamol di rumah ya, Bu, ini penting banget, karena ada beberapa anak yang ga kuat demam di atas 38°C dan akhirnya menyerang ke otak. Duh, jadi teringat tetangga sendiri.

Jadi, kalo anak demam biasanya yang saya lakukan adalah:

1. Lihat perilaku anak, jika masih aktif berikan minum sebanyak-banyaknya. Jika dia pipis lebih banyak akan lebih bagus, karena lewat urine panas bisa dikeluarkan

2. Jika anak berubah menjadi pasif dan lemas, ukur suhu tubuhnya sambil tetap jaga asupan cairan. Demam berpotensi tinggi menyebabkan dehidrasi akut dan ini bahkan bisa lebih berbahaya daripada demam itu sendiri karena bisa berujung kematian

3. Kompres dengan air hangat tanpa menempelkan kain kompres terlalu lama. Kain kompres yang melekat lama di kulit akan menghambat panas yang akan keluar. Mengompres dengan air dingin hanya akan menyebabkan tubuh mengeluarkan reaksi "menambah panas"

4. Jika anak tidak mau makan jangan dipaksa. Makanan tidak hanya berbentuk padat, apalagi dalam keadaan sakit sistem pencernaan tidak seaktif waktu sehat karena energi tubuh digunakan untuk melawan kuman penyakit dan bukan untuk menggerakkan sistem pencernaan. Berikan makanan dalam bentuk cairan seperti kaldu tulangan yang tinggi nutrisi, bisa juga ditambahkan sayur di dalamnya.

5. Berikan obat penurun panas jika suhunya semakin mengkhawatirkan. Ada dokter yang mengatakan ketika suhu 38.5°C baru diberikan obat. Tapi ada juga dokter yang menyilakan memberikan obat ketika suhu 37.5°C karena masing-masing anak berbeda ketahanan tubuhnya dalam menghadapi demam.



Sudah punya obat penurun panas andalan, Ma? Kalau belum sini saya kasih rekomendasi. Tempra paracetamol ini jadi andalan dan diusahakan selalu ada di kotak P3K. Karena apa? Karena Tempra aman di lambung, tidak perlu dikocok karena larut 100%, dan juga dosisnya tepat tentunya jika kita memperhatikan dengan baik takarannya.

Mungkin ada yang tau kalau selain paracetamol adalagi yang bisa menurunkan panas. Ya, ibuprofen. Paracetamol dan ibuprofen mempunyai sifat hampir sama, sama-sama antipireutik alias menekan panas. Bedanya adalah jika ibuprofen termasuk obat NSAD (nosteroidal anti-inflammatory drugs) yang artinya memiliki sifat anti radang sehingga memiliki resiko yang lebih besar, sedangkan paracetamol tidak sehingga obat ini lebih ramah digunakan karena resikonya minim.

Sekarang Muthia sudah sehat kembali
Mempunyai anak adalah anugerah tak ternilai dari Sang Pencipta. Sudah seharusnya kita rawat dan kita jaga. Orangtua memang bisa alpa dan khilaf sama seperti manusia-manusia lainnya, tapi anak kitapun juga manusia yang punya hati yang lembut sama seperti anak-anak kecil lainnya. Berikan yang terbaik untuk mereka kelak mereka akan memberikan yang terbaik pula di masa tua kita. Niatkan dengan ikhlas semoga Tuhan membimbing kita menjadi orangtua terbaik untuk mereka. Karena selalu ada cinta




Note: Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Tempra

2 komentar:

  1. Anak memang segalanya, kalau sakit ibu selalu berusaha memberikan yang terbaik

    BalasHapus
  2. Sama mba, waktu hamil aku juga suka baca baca artikel tentang janin dan lainnya yang bikin sedih dan parno. Dede muthia sehat terus ya..

    BalasHapus