Halo assalamu'alaikum.....

Lama banget saya ga review buku, tau-tau hari ini nongol dengan novel yang kehebohannya sudah lewat setahun lalu.

Kemana aje, Bu??? ๐Ÿ˜…

Novel ini saya beli pas harbolnas di Mizanstore.com dengan harga 80.000-an. Belinya bulan November 2018, bacanya baru April 2019.

Kemana aje, Bu??? ๐Ÿ˜…

Ga kemana-kemana Bu, hahaha.... Saya cuma belum tertarik aja sama karyanya Dewi Lestari, satu buah pun belum ada yang saya baca apalagi punya. Saya masih enak di zona nyaman; menghabiskan semua judul novel Tere Liye.

Zuzur, saya orangnya susah bisa nge-klik sama tulisan selain dari penulis junjungan. Jadi yaa....pas Aroma Karsa ini launching Maret 2018 dengan segala keriuhannya dan segala review positifnya saya masih tetap tak acuh, bergeming.

Tapi, 5 April 2019 ini, sehari setelah menuntaskannya saya ga tahan juga pengen kasih ulasan untuk novel tertebal sekaligus tercepat saya lahap, Aroma Karsa.

Saya yakin di luar sana juga sudah banyaaak banget blogger yang bikin reviewnya. Di Goodreads juga sudah ada 474 review-er dari 1.847 akun Goodreads yang membaca Aroma Karsa. Ratingnya 4.4 dari 5 di sana. Saya sendiri ingin sekali memberi rating 5, tapi sayang beberapa hal bikin saya menguranginya 1.

Kenapa? Hmmm, lanjutkan bacanya yaks Qaqa....

Ok, langsung aja... ini dia review Aroma Karsa, the thickest and the soonest-complete novel I have ever read.


Detail



Penulis: Dee Lestari
Penerbit: Bentang Pustaka
Desain sampul: Hezky Kurniawan
ISBN: 978-602-291-463-1
Cetakan kedua: November 2018
Halaman: 710 halaman
Genre: Mistery, romance, dan fantasy

Ketika melihat sampulnya terbawa sekali pesan bahwa ini adalah novel misteri dengan latar sarat Jawa kuno. Pemilihan tulisan judul - yang saya ga tau nama font-nya- seperti ingin memirip-miripkan dengan aksara Jawa kuno.
Huruf Hanacaraka atau Jawa Kuno
Sumber: wikepedia.com

Eh, mirip ga sih? Kayanya ga terlalu ya ๐Ÿ˜…tapi bagian bawah yang dibuat bertaut-taut itu terlihat sejenis.

Selain itu, gambar anggrek di bawah sampul dan dua manusia pohon berlainan jenis dengan 1 gambar bunga di tengahnya cukup memberi tau kepada kita tentang apa novel ini.

Menurut saya pribadi covernya sukses menyampaikan intisari cerita di dalamnya. Mistery dan romance. Walaupun ketika melihat pertama kali covernya saya masih belum ngeh maknanya. Baru ketika halaman ke-300 baru saya benar-benar paham.

Menurut halaman informasi, novel ini memiliki 710 halaman, dengan 696 halaman khusus untuk cerita Aroma Karsa dari bab 1 -  61. Agak berbeda dengan novel cetakan pertama yang memiliki total 724 halaman. Lumayan banyak ya selisihnya.

Apakah ada yang diedit dan dikurangi di cetakan kedua? Saya kurang tau....



Plot

Alur ceritanya bisa dibilang lambat, tapi saya sangat menikmatinya. Bahkan sejak bab 1, dimana itu bab krusial yang menentukan pembaca akan lanjut apa tidak, saya sudah ketagihan. Penasaran tepatnya.

Alur yang dipilih adalah mundur-maju karena cerita ini menautkan kisah masa lalu dan masa depan sebuah generasi Prayagung pada sebuah cita-cita, Puspa Karsa.


Tokoh

Ada 3 tokoh sentral di dalamnya, yaitu;

Raras Prayagung
Sebagai cucu dari Janirah Prayagung yang selalu didongengkan kisah Puspa Karsa, Raras menjadi terobsesi untuk mewujudkan kisah itu, menemukan bunga Karsa yang bisa mengendalikan manusia.

Tokoh Raras bagi saya abu-abu, saya tidak bisa menetapkan dia protagonis atau antagonis sampai saya masuk ke bab 40-an.

Raras tidak menikah hingga usia kepala 5. Tangan dinginnya membuat Raras menjadikan Kemara maju pesat dengan branding yang kuat.

Tanaya Suma
Suma adalah anak angkat dari Raras karena Raras memilih tidak menikah. Suma, walaupun tidak sedarah tapi wataknya persis ibu angkatnya; dominan, tegas, anggun, sekaligus ambisius.

Suma adalah calon penerus Kemara, dia seorang ahli parfum dengan international qualified perfumer.

Suma punya kelainan kelebihan; bisa membaui yang tidak terbaui oleh manusia biasa. Karena kelebihannya inilah dia tidak sebebas manusia normal karena jika ada sedikit saja bau tidak enak dia akan mual dan muntah sejadi-jadinya.

Jati Wesi
Jati adalah laki-laki 26 tahun, seumur dengan Tanaya Suma, dan punya kelebihan yang sama; bisa membaui yang tidak terbaui oleh hidung manusia biasa. Tidak jelas orangtuanya sehingga dia dibesarkan oleh penadah bayi bernama Nurdin. 

Kelebihan mereka inikah yang akan mendominasi cerita Aroma Karsa, olfaktori on story.

Bedanya, Jati tidak akan mual muntah karena dia hidup di TPA Bantar Gebang, di mana segala bau berkumpul mulai dari mangga mangkal, mangga busuk, kotoran kambing, kotoran manusia, sayur segar, sayur busuk, janin hasil aborsi ataupun bayi yang sengaja ditinggal hingga membusuk sampai mayat pembunuhan manusia dewasa. (Mayat?)

Jati, si Hidung Tikus adalah tokoh yang mencuri hati saya pembaca dari awal. Saya bahkan belajar banyak darinya tentang indera penciuman.

Tokoh-tokoh lainnya diceritakan secara apik oleh Dee sampai halaman 400.

What??

Yaa, sampai halaman itu kita akan diajak mengenali setiap tokoh dan karakternya. Tidak membosankan, sama sekali. Maka, tidak heran kalau ada blogger yang mengatakan plot-nya sangat lambat, seperti kura-kura, hihihi.

Baru di 300 halaman terakhir cerita ekspedisi menemukan Puspa Karsa, si bunga dongeng itu diceritakan.


Sinopsis

Sebagai cucu dari Janirah Prayagung yang selalu didongengkan kisah Puspa Karsa, Raras menjadi terobsesi untuk mewujudkan kisah itu, menemukan bunga Karsa yang bisa mengendalikan manusia.

Raras mendapatkan banyak pelajaran hidup dari Janirah, neneknya, yang mengubah garis nasib keturunan Prayagung yang semula hanya abdi keraton secara turun temurun menjadi pengusaha kosmetik ala keraton.

Janirah mendapatkan resep kosmetik kerajaan dengan mencuri, oleh karenanya dia disebut Janirah si Pencuri.

Janirah memang suka mencuri, tapi dia membela diri dengan mengatakan hanya mencuri "hal-hal yang bermanfaat", mulai dari resep kecantikan Keraton Jogjakarta sampai kotak besi tua berisi 3 tabung perunggu - yang menampung cairan kental- beserta lembaran lontar bertuliskan aksara hanacaraka.

Dari kotak inilah cerita sepanjang 696 halaman dalam novel ini bermula.

Raras kemudian yang menjadi pemegang perusahaan kosmetik ala keraton yang didirikan oleh neneknya. Perusahaan itu msju pesat setelah sebelumnya dilanda krisis karena ditangani ayahnya yang tidak mewarisi kegigihan neneknya.

Kemara nama perusahaan kosmetik itu, menjadikannya wanita terkaya no. 3 di Indonesia. Tapi, Kemara hanya kendaraan menuju tujuan akhirnya.

Suma, anak angkatnya, dipersiapkan melanjutkan kepemimpinan. Dia mempunyai produk andalan yang dibuat dengan tangannya sendiri, yaitu Puspa Ananta, yang kemudian hari akan menjadi bibit konflik antara dirinya dan Jati Wesi yang ternyata sudah diskenariokan dari awal oleh Raras Prayagung.

Tokoh Jati Wesi yang dari awal sudah menarik perhatian karena kemampuan olfaktori-nya secara "tiba-tiba"  harus tinggal di kediaman Raras dan Suma. Fyi, olfaktori adalah lobus otak yang bertanggung jawab pada indera penciuman.


Baru tau banget, aroma manusia itu kaya nanas dan apel 

Sama, Komandan! Saya ga masuk juga๐Ÿ˜… 

Pertama kali Jati menginjakkan kaki di rumah Raras, Suma sudah benci karena laki-laki itu membuat dia terpaksa menguras habis isi perutnya. Jati pun disuruh mandi air soda kue untuk menetralkan bau sisa-sisa peninggalan di Bantar Gebang, membuang semua benda-benda yang dibawa dari sana dan harus mandi dengan sabun yang sudah disiapkan formulanya yang bisa ditolerir oleh Suma.

Mereka berdua punya kelebihan yang sama tapi bagai bumi dan langit mengantisipasinya.

Jati dan Suma adalah tokoh utama yang dirancang untuk mengikuti ekspedisi pencarian Puspa Karsa karena bunga itu hanya bisa ditemukan oleh hidung yang spesial. Ekspedisi maut yang menumbalkan banyak orang demi 1 obsesi. Ya, maut. 

Merinding? Sama....



Ulasan

Kalian sudah baca dengan runut dari tokoh sampai sinopsinya? Bagaimana? Apakah penasaran atau biasa-biasa aja?

Saya menulis review Aroma Karsa tidak lain karena saya merasa harus menulis pendapat saya baik itu plus dan minusnya. Karena yaah, sekali lagi ini adalah buku paling tebal sekaligus paling cepat saya habiskan; 300 halaman pertama terpotong dalam 2 hari, dan 400 halaman terakhir habis dalam 7 jam sekali duduk.

Sedikit banyak saya punya kesan tersendiri untuk rekor ini.

Alur mundur - maju yang dipilih Dee menurut saya tepat sekali untuk membuat pembacanya seperti tersihir karena penasaran bahkan sejak membuka bab pertama. Rasa penasaran kita akan diaduk-aduk kemudian dibanting-banting hingga kita tidak punya pilihan selain menuntaskannya secepat mungkin.

Aroma Karsa adalah novel pertama yang saya baca dengan genre misteri. Suasana mistik yang dibangun di bab awal berhasil membuat adrenalin meninggi dan aliran darah terpacu.

Saya takut aja kalo tiba-tiba wangi cendana dan melati yang saya bayangkan ketika membaca novel ini tiba-tiba menguar, padahal malam itu saya ditinggal suami dinas sampai malam, hihihi. Parnoan emang.

Pilihan diksi Dee juga bagus. Seperti mengganti kata "nekat" dengan "berani berjudi dengan resiko", dan yang lain. Unik, asyik, tapi tetap efektif. 

Selain bagus juga cukup memusingkan kami pembacanya. Hahaha... Nah loh ๐Ÿ˜…Sering mendapati ada kata yang baru saya dengar kali itu. Membuat saya kadang bertanya, apakah sudah ada di daftar KBBI atau hanya typo. Tapi, rasa-rasanya novel sekelas Aroma Karsa pasti sudah melalui riset mendalam. Jadi, kemungkinan saya yang ketinggalan banyak soal kata baku baru.

Walaupun begitu, tetap kesan pertama saya saat menghabiskan bab pertama Dee sangat mampu bercerita dengan menggunakan kalimat efektif sehingga saya tidak sehalaman pun bosan menanti ujung cerita puluhan bab ini.

Ditambah lagi epilog setiap bab seperti sengaja digantung, membiarkan pembaca meliarkan imajinasinya, menerka-nerka yang terjadi di bab depan.

Dan 1 lagi, riset. Kentara sekali Dee melakukan riset yang mendalam ketika menuliskan Aroma Karsa.

Riset tersebut ialah; ✔️ membaca setidaknya 10 buku tentang indera penciuman, ✔️ mendatangi langsung TPA Bantar Gebang, pusat sampah terbesar di Indonesia yang merupakan tempat tinggal si Jati Wesi ✔️ belajar bahasa Jawa Kuno dan epigrafi Majapahit ke Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia,   ✔️ mendatangi pabrik Mustika Ratu sebagai sumber penulisan tentang Kemara ✔️ kursus meracik parfum yang diselenggarakan Nose Who Knows di Singapura ✔️ hingga mewawancarai juru kunci gunung Lawu dan meriset jalur tengah, jalur terlarang pendakian. 

Mustika Ratu, Candi Sukuh, Gunung Lawu Buku-buku tentang indera penciuman, sebagian riset Dee yang ada di kolase


Wowww, jujur saya belum pernah baca novel yang dikerjakan dengan riset seperti ini. Wajar banget kalo isinya pun tidak main-main dan yah....akhirnya banyak yang tersihir untuk menghabiskan novel ini secepatnya. 


Dengan riset sedalam ini membuat banyak sekali wawasan baru di yang diberikan untuk pembacanya. Dan gara-gara riset ini pulalah banyak yang rancu apakah ini Aroma Karsa ini fiktif apa cerita nyata. Dan Dee sukses parah membuat batasan ini jadi kabur. Parah! 



Fiksi yang berhasil ketika dibaca akan terasa seperti nonfiksi, dan nonfiksi yang berhasil ketika dibaca akan terasa seperti fiksi dan saya sepenuhnya sepakat (dengan teori ini) ” kata Dee

Tapi seperti pepatah, tidak ada gading yang tak retak dan tidak ada mawar yang tidak berduri, walaupun decak kagum dari awal mengalir untuk novel ini tapi tetap ada minusnya. Tapi, ini adalah penilaian subjektif, tidak serta merta opini saya diterima pembaca yang lain. Hanya saja cukup mengganggu (atau kalo boleh dibilang sangat menganggu).

Apakah gerangan?

Sebagai novel dengan tema romance salah satunya saya maklum jika ada kisah jatuh cinta di sini. Malah kalo tidak ada sama sekali rasanya kurang seru sedangkan tokohnya ada laki-laki dan perempuan istimewa.

Hanya saja yang saya sayangkan adalah adanya beberapa adegan yang diceritakan hanya boleh terjadi pada suami istri. Yaa begitulah.... Apalagi Dee emang juara jika mendeskripsikan sesuatu, apa saja termasuk bagian ini. Walaupun kata teman blogger yang lain tidak vulgar tapi tetap tersampaikan jelas.

Maka, untuk bagian ini saya pikir lebih baik tidak ada saja karena pembaca Dee kan ada juga yang dari pelajar. Dan toh tanpa ini novel Aroma Karsa tetap akan bagus koq.

Yaah, saya memang kolot, terserah dibilangnya apa. Saya tidak tau novel romance di tangan penulis lain gimana karena saya bukan pengikut genre romance jadi bacaan novel romance saya terbatas sekali. 

Bagian inilah yang membuat saya batal memberi rating 5 di Goodreads.

***

Jadi, bagaimana readers? Kalian sudah baca dan punya kesan yang lain? Let me to know.